Rabu, 30 April 2014

Akhlak Itu Dapat Diubah

AKHLAK ITU DAPAT DIUBAH... INSYA ALLAH

"Sebagian orang memiliki perangai tidak terpuji: tutur katanya kasar (lisannya tajam –red), mudah emosi, mudah berkata bohong, senang ghibah, namimah, dsb. KETIKA DIINGATKAN, DENGAN SERTA MERTA DIA MENJAWAB, “MEMANG SEPERTI INILAH KARAKTERKU/TABIATKU. MAU BAGAIMANA’ LAGI?”

Berikut ini penjelasan Ustadz Abu Ihsan hafizhahullah:

Sebagaimana kita ketahui binatang buas saja dapat berubah. Binatang yang memiliki karakter liar, ganas dan buas namun setelah dilatih berubah menjadi jinak. Lihatlah sirkus dimana singa, harimau atau gajah liar dapat berubah menjadi jinak. Dengan apa mereka berubah? Tentu sja dengan latihan. Kesimpulannya akhlak dapat berubah walaupun hal ini memerlukan perjuangan yang berat karena mengubah kebiasaan itu berat.

Ada istilah tabi’at dan kebiasaan, sebagaimana ada sebuah perkataan, “Seseorang itu tumbuh besar menurut kebiasaan yang dibiasakan orangtuanya.” Dalam hal ini pengaruh lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap perilaku dan tabi’at seseorang. Lihatlah orang-orang yang tumbuh di tengah-tengah keluarga yang tidak memperhatikan akhlak. Mereka sangat jauh dari akhlak mulia.

Jika ada yang bertanya, “Apakah akhlak dapat berubah?” Jawabannya: “Dapat.” Sebagian orang memiliki perangai tidak terpuji: tutur katanya kasar (lisannya tajam –red), mudah emosi, mudah berkata bohong, senang ghibah, namimah, dsb. KETIKA DIINGATKAN, DENGAN SERTA MERTA DIA MENJAWAB, “MEMANG SEPERTI INILAH KARAKTERKU/TABIATKU. MAU BAGAIMANA LAGI?”

Dengan kata lain dia merasa sudah tidak berpeluang lagi untuk mengubah karakternya. Dengan jawaban tersebut dia seolah-olah berkata bahwa akhlak adalah sesuatu yang baku dan memiliki harga mati yang tidak bisa diubah lagi. Selain itu dia menjadikan jawaban tersebut sebagai dalil untuk menutupi keburukan yang ada pada dirinya....

Awas Jangan Tertipu

AWAS JANGAN TERTIPU

Sebagian orang tatkala merasa telah mengamalkan tauhid dan menjauhi kesyirikan serta mengamalkan al-Kitab dan as-Sunnah bahkan mendakwahkannya (atau berkecimpung di dalam lembaga Dakwah Islam Ahlus Sunnah –red) maka mereka lalai dari mengamalkan akhlak yang mulia. Perasaan (maksudnya ‘persangkaan’ –red) mereka bahwa mereka telah menguasai ilmu tauhid dengan baik telah memperdaya mereka dari memperhatikan pengamalan akhlak yang mulia. Mereka lalai dari menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka, atau minimal mereka kurang dalam menunaikan hak-hak mereka. Namun yang lebih menyedihkan lagi, bukan hanya kurang dalam menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka, bahkan mereka berbuat dzolim kepada saudara-saudara mereka dengan lisan-lisan dan tulisan-tulisan mereka. Sungguh mereka telah menggabungkan antara dua keburukan yaitu kurang dalam menunaikan hak-hak saudara-saudara mereka dan berbuat dzolim terhadap mereka.

Syaikh Al-Albani berkata,
((Tauhid ini telah kita pelajari, telah kita fahami dengan baik, serta telah kita realisasikan dalam aqidah kita. Akan tetapi kesedihan telah memenuhi hatiku...., aku merasa bahwasanya kita telah tertimpa penyakit gurur (terpedaya) dengan diri sendiri tatkala kita telah sampai pada aqidah ini serta perkara-perkara yang merupakan konsekuensi dari aqidah ini yang telah kita ketahui bersama seperti beramal dengan dasar al-Kitab dan as-Sunnah dan tidak berhukum kepada selain al-Kitab dan Sunnah Nabi. Kita telah melaksanakan hal ini yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim –yaitu pemahaman yang benar terhadap tauhid dan beramal dengan al-Kitab dan as-Sunnah- yang berkaitan dengan fiqih yang dimana kaum muslimin telah terpecah menjadi beragam madzhab dan telah menempuh jalan yang berbeda-beda seiring dengan berjalannya waktu yang panjang selama bertahun-tahun.
Akan tetapi nampaknya –dan inilah yang aku ulang-ulang dalam banyak pengajian- bahwasannya dunia islam ini –dan termasuk didalamnya adalah para salafiyiin sendiri- telah lalai dari sisi yang sangat penting dari ajaran Islam yang telah kita jadikan sebagai pola pikir kita secara umum dan mencakup seluruh sisi kehidupan. Diantara sisi penting tersebut adalah akhlak yang mulia dan istiqomah dalam menempuh jalan.

Banyak dari kita tidak peduli dengan sisi ini –yaitu memperbaiki akhlak dan memperindah budi pekerti- padahal kita semua membaca dalam kitab-kitab sunnah yang shahih sabda Nabi :
إِنَّ الرَّ جُلَ لُيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ السَّاهِرَ بِاللَّيْلِ الظَّامِىءِ بِالْهَوَاجِرِ
“Sesungguhnya seseorang dengan akhlaknya yang mulia mencapai derajat orang yang begadang (karena sholat malam) dan orang yang kehausan di siang yang panas (karena puasa)”. [as-Silsilah ash-Shahihah no.794]
Kita juga membaca dalam al-Qur’an al-Karim bahwasanya bukanlah termasuk akhlak Islam adanya perselisihan diantara kaum muslimin –dan secara khusus kita yaitu diantara para salafiyin- hanya karena perkara-perkara yang semestinya tidak sampai menimbulkan perselisihan dan pertikaian. Kita membaca firman Allah tentang hal ini :
وَلاَتَنَازَعُواْ فَتَفْثَلُواْ وَتَذْ هَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah”. [Qs. Al-Anfaal : 46] 
Sebagian orang tatkala merasa telah menjalankan sunnah dengan baik maka mereka mudah mengeluarkan orang lain dari sunnah hanya karena kesalahan-kesalahan yang masih bisa ditoleransi. Sebagian mereka menghajr saudara-saudara mereka sesama ahlus sunnah tanpa dalil yang jelas. Ini merupakan akhlak yang buruk.

Syaikh Al-Albani berkata, ((dengarlah nas-nas hadits Nabi yang berisi ancaman-ancaman yang berat bagi orang yang menghajr tanpa hak.
 تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ فَيُغْقَرُ فِي ذَلِكَ الْيَومَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللّهِ شَيْئًا إِلاَّ مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَينِ حَتَّى يَصْطَلِحَا 
“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis lalu pada dua hari t
ersebut diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apapun kecuali orang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan maka dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai” [HR. Abu Dawud IV/279 no.4916 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani (lihat Goyatul Maram hadits no.412]

Sabda Nabi ((diampuni seluruh hamba yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun)), merupakan kabar yang menggembirakan kita, dan kita mengharapkan kebaikan dengan hadits ini, karena kita adalah para da’i yang menyeru kepada tauhid, dan kitalah yang mengangkat bendera dakwah kepada tauhid dan memberantas kesyirikan dengan segala macam bentuknya. Maka kita menyangka sebagaimana dikatakan sekarang tanpa perlu “transit”, karena kita bertauhid kepada Allah dan sama sekali tidak demikian...!!! cermatilah hadits ini, pahamilah, dan berusahalah terapkan (cocokkan) dengan kehidupan kalian sehari-hari.
 تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ فَيُغْقَرُ فِي ذَلِكَ الْيَومَيْنِ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللّهِ شَيْئًا إِلاَّ مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوْا هَذَينِ حَتَّى يَصْطَلِحَا 
“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis lalu pada dua hari tersebut diampuni seluruh hamba yang tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu apapun kecuali orang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan maka dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua damai, tangguhkanlah kedua orang ini (tidaklah diampuni) hingga mereka berdua berdamai” [HR. Abu Dawud IV/279 no.4916 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani (lihat Goyatul Maram hadits no.412]

((Tangguhkanlah kedua orang ini)
) yaitu tunggu-lah dahulu, sabarlah dahulu, janganlah (mencatat) ampunan bagi mereka sampai mereka berdua berdamai dan kembali menjadi:
إِخْوَانًا عَلَاى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِيْنَ
“Saling bersaudara yang duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” [Qs. Al-Hijr : 47]
Kemudian Nabi juga bersabda dalam hadits yang lain:
ثَلاَثَةُ لاَتَرْفَعُ لَهُمْ صَلاَتُهُم فَوقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْ مًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ وَامْرَ أَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مَتَصَارِمَانِ
“Tiga golongan yang tidak diangkat sejengkal pun sholat mereka ke atas kepala mereka, seorang lelaki yang mengimami sebuah kaum dan mereka benci kepadanya, seorang wanita yang bermalam dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan dua orang yang saling memutuskan hubungan.” [HR. Ibnu Majah I/311 no.971 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Misykat Al-Mashobiih no.1128]

Sabda Nabi (( dan dua orang yang saling memutuskan hubungan )) yaitu saling memutuskan hubungan dan saling menghajr.
Jika demikian maka saling memutuskan hubungan, saling menghajr, saling meninggalkan satu terhadap yang lainnya tanpa adanya sebab yang syar’i, -akan tetapi hanya karena perbedaan pendapat-, maka akibat buruk yang ditimbulkannya antara lain sholatnya tidak akan diangkat kepada Allah dan tidak diterima oleh Allah.
Sebagaimana firman Allah:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الكَلِمُ وَالعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik diangkat amal yang sholeh dinaikkan-Nya.” [Qs. Fatir : 10]
Sholat kedua orang yang saling menghajr ini tidaklah diangkat kepada Allah dan tidak diterima.

Kebanyakan sikap memutuskan hubungan dan menghajr adalah dikarenakan persangkaan-persangkaan serta dugaan-dugaan (yang buruk) –yang terlintas di pikiran seseorang- terhadap saudaranya sesama muslim…” [Diterjemahkan dari Silsilah Nuur ‘ala Ad-Darb, kaset no.23]

PENUTUP
Akhirnya segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan nikmatNya kepada hamba-hambaNya. Semoga sepenggal goresan tangan ini bisa menggugah kembali semangat para pembaca s
ekalian untuk menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Juga menambah fokus pembaca dalam pembenahan akhlak.

اللّهُمَ اهْدِنَا لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَيَهدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أنْتَ وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لاَيَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah tunjukkanlah kami untuk berhias dengan akhlak yang terbaik karena tidak ada yang bisa menunjukkan kami kepada hal kecuali Engkau, dan jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk dan tidak ada yang bisa menjauh kami darinya kecuali Engkau”
Dan semoga kita bisa termasuk dalam orang-orang yang memperoleh janji Nabi dalam sabdanya:
أَنَازَعِيْمٌ بِِبَيْتِ فِى رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقَّا وَبِبَيْتِ فِى وَسَطِ الجَنَّةِ لِمَن تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتِ فِى أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di atas kebenaran, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun hanya bercanda, dan sebuah rumah di tempat tertinggi di surga bagi siapa yang membaguskan akhlaknya” [HR. Abu Dawud no.4802 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.1464]
Aaamin yaa Robbal ‘Aaalamiiin
(Dari Madinah ke Radio Rodja, Ustadz Firanda)

Ensiklopedia Akhlak Salaf

ENSIKLOPEDI AKHLAK SALAF
Oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari, M.A

Pembicaraan tentang adab dan akhlak adalah pembicaraan yang tidak ada habisnya. Selama kita masih berada di atas muka bumi ini, pembahasan tentang adab dan akhlak akan tetap selalu dibutuhkan umat manusia. Seperti yang dituturkan oleh Abdullah Ibnul Mubarak, “Aku mempelajari adab selama 30 tahun dan aku mempelajari ilmu lainnya selama 20 tahun”.

Salaf terdahulu terlebih dahulu mempelajari adab kemudian ilmu lainnya. Lihatlah penuturan Imam yang mulia ini dari 50 tahun perjalanan menuntut ilmu, lebih dari separuhnya beliau gunakan untuk mempelajari adab. Artinya, sejak kecil para ulama salaf terdidik dan terbina di atas akhlak mulia, sehingga ketika mereka dewasa mereka menjadi morang-orang yang memiliki adab yang mulia dan siap untuk menerima ilmu. Orang-orang yang tidak pernah mencicipi pelajaran adab semasa kecilnya dia terkesan tidak siap menerima ilmu. Ilmu yang dituntutnya bukan menambah tunduk dan tawadhu kepada Allah, tapi justru menambah kesombongannya.

Maka sekarang kita lihat fenomena ketidakseimbangan antara mempelajari adab dan ilmu-ilmu lainnya sehingga menimbulkan ketimpangan-ketimpangan dalam perilaku amal keseharian. Sering ada keluhan, “Si fulan makin lama ngaji tapi makin buruk akhlaknya, makin sombong, angkuh, takabbur.” Mengapa bisa terjadi seperti itu? Kemungkinan dia melalaikan pelajaran-pelajaran adab atau meremehkannya, sehingga ilmunya tidak menambahnya tawadhu malah membuatnya bertambah sombong.

Ilmunya tidak seperti ilmu padi: makin berisi makin merunduk. Sebaliknya dia seperti tong kosong nyaring bunyinya. Seperti itulah fenomena yang kita lihat di zaman ini. Orang-orang yang tidak memperhatikan pelajaran adab maka ilmunya tidak membawa keberkahan pada dirinya. Ilmunya tidak menjadikan dia tawadhu kepada Allah, tawadhu kepada sesama, bahkan menjadikannya takabur kepada Allah. Maka dari itu kita tidak boleh mengabaikan pelajara-pelajaran yang berkaitan dengan adab. Ibnu Sirin berkata : “ Para salaf belajar adab sebagaimana mereka belajar tentang ilmu. Jadi mereka tidak meremehkan pelajaran-pelajaran tentang adab.

Lihatlah seseorang ketika mengenal manhaj salaf. Dia menjadi salafy, menjadi seorang ahlus sunnah wal jama’ah maka kita melihat aqidahnya berubah. Dahulu dia tidak mempercayai nama dan sifat-sifat Allah, setelah mengenal manhaj salaf dia mengimani nama dan sifat Allah, yakni mengimani tauhid asma wa sifat. Demikian pula tauhid uluhiyahnya. Jika dahulu dia sering datang ke dukun ataupun masih mempercayai hal-hal yang berbau tathayyur, maka setelah mengenal manhaj salaf keyakinannya berubah. Demikian pula ibadahnya berubah. Dahulu sebelum ngaji ibadahnya dipenuhi bid’ah setelah mengenal sunnah ibadahnya berubah menjadi sunnah. Sholatnya, puasanya sesuai sunnah. Demikian pula penampilannya berubah. Dahulu sebelum mengenal kajian salafy jenggotnya dicukur, celananya isbal ( di bawah mata kaki) setelah mengenal manhaj salaf jenggotnya dipelihara dan celananya di atas mata kaki.

Semuanya berubah. HANYA SATU YANG MUNGKIN AGAK TERLAMBAT BERUBAH DAN MUNGKIN JUGA TIDAK KUNJUNG BERUBAH YAITU AKHLAKNYA. Akhlaklah yang paling terakhir berubah pada diri seseorang meskipun dia sudah lama mengenal manhaj salaf. Semuanya sudah berubah namun belum tentu akhlaknya berubah. Namun bukan berarti akhlak itu tidak dapat diubah. Akhlak dapat diubah......
Silahkan unduh audionya:http://moslemsunnah.wordpress.com/2013/04/03/download-audio-ensiklopedia-akhlak-ustadz-abu-ihsan-al-atsari-surabaya-09-maret-2013/

Senin, 28 April 2014

Janji Alloh Dalam Al Quran

Empat Janji Allah Dalam al-Quran 
Ust. Fuad Hamzah Baraba' LC

هل تعرف ماهي الوعود الربانيه الأربعة ؟ 

لئن شكرتم لأزيدنكم. (إبراهيم:7) 
اذكروني أذكركم. (البقرة:152) 
ادعوني أستجب لكم. (غافر:60) 
ماكان الله معذبهم وهم يستغفرون. (الأنفال:33) 

حافظوا عليها

Apakah kamu tahu apa empat janji Allah Ta'ala?

1. Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) untuk kalian. (QS. Ibrahim:7).

2. Ingatlah kepadaku niscaya Aku ingat kepada kalian. (QS. Al-Baqarah:152).

3. Berdoalah kepadaku pasti aku kabulkan untuk kalian. (QS. Ghafir:60).

4. Tidaklah Allah mengazdab mereka, selama mereka memohon ampun (beristighfar kepada Allah). (QS. Al-Anfal:33). 

Jagalah oleh kalian janji-janji Allah tersebut...

Kamis, 24 April 2014

Kitab Kutubussita

Alhamdulillah ladzi binikmati tattimus sholihat
kita mendapatkan kembali ilmu yang sangat bermanfaat kali ini dari ustad badrusalam
penjelasan kitab kutubussita bagian pertama yaitu pembahasan sunnah abu daud....bagi yang tidak/belum menggikuti class beliau anda ttp dapat mendengarkan kajian beliau 
Sekitar 175 hadist sangat2 bermanfaat silahkan mendownload memdengarkan dan mengamalkanya.....undu via
https://db.tt/11ymD9gV

Rabu, 23 April 2014

Tinggalkan Yang Meragukan

Seringkali kita dihadapkan kepada keadaan yang membingungkan, amal ini boleh dikerjakan apa tidak ya? apakah sholat saya sudah 4 rokaat ataukah 3 rokaat? apakah saya sudah berwudhu atau belum, dan berbagai hal lain yang meragukan sehingga menimbulkan rasa was-was. Bagaimana petunjuk Islam dalam hal ini?

Simak ceramah singkat (10 menit) berjudul “Tinggalkan yang Meragukan” oleh Ustadz Badrusalam, Lc.

http://yufid.tv/tinggalkan-yang-meragukan-ustadz-badrusalam-lc/

Keshalihan Orang Tua,Modal Utama

KESHALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA

Kita punya keinginan sama. Kita punya harapan serupa. Ingin anak kita shalih. Berharap anak kita berbakti pada orang tua.

Tapi sadarkah kita? Keshalihan dan ketaqwaan kita adalah modal utama untuk meraihnya. Jadi lucu sekali, kita berharap anak menjadi shalih dan bertaqwa, sementara kita berkubang dalam maksiat dan kelalaian. Keshalihan jiwa dan perilaku orang tua mempunyai andil besar dalam membentuk keshalihan anak.

Maka, Allah memerintahkan segenap orang tua yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya, agar bertaqwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan mengerjakan berbagai amal ketaatan agar Allah menjaga anak cucunya dengan amalan tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” 9An Nisa : 9)

Itulah sebabnya para salaf sungguh-sungguh beribadah demi kebaikan anak cucu mereka.

Sa’id Ibnul Musayyib berkata, “Sesungguhnya ketika shalat aku ingat anakku, maka aku menambah shalatku.”
(Mencetak Generasi Rabbani oleh Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan)

Ada yang belajar agama, malah tambah congkak dan sombong ...

Kata Ibnu Mas'ud,

من تعلم علما لم يعمل به لم يزده إلا كبرا

“Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hal. 75)

Barangkali kita pun bisa terjangkit penyakit ini. Gara-gara ilmu tinggi malah bukan tawadhu', namun senangnya merendahkan, menjelek-jelekkan, dan tidak beradab.

Semoga Allah melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Selengkapnya di Rumaysho.Com:
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/ancaman-tidak-mengamalkan-ilmu-7260