Senin, 22 Agustus 2016

Adab Bicara Dan Bergaul

Copas dari sebelah

 Adab Berbicara Dan Bergaul

1. Banyak Bicara ( ﺍﻟﺜَّﺮْﺛَﺎﺭُﻭﻥَ )
Ats-tsartsarun artinya banyak bicara. Maksudnya, banyak bicara yang tidak ada faedah/manfaat yang dapat menimbulkan perkara ghibah, adu domba, sakitnya hati seseorang atau malah bisa merendahkan kehormatan seseorang tersebut.

Ini merupakan tabiat yang buruk, tanda dangkalnya seseorang dan tipis agamanya.

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺒِّﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻲَّ ﻭَﺃَﻗْﺮَﺑِﻜُﻢْ ﻣِﻨِّﻲ ﻣَﺠْﻠِﺴًﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺃَﺣَﺎﺳِﻨَﻜُﻢْ ﺃَﺧْﻠَﺎﻗًﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﺑْﻐَﻀَﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻲَّ ﻭَﺃَﺑْﻌَﺪَﻛُﻢْ ﻣِﻨِّﻲ ﻣَﺠْﻠِﺴًﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺍﻟﺜَّﺮْﺛَﺎﺭُﻭﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺪِّﻗُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﻔَﻴْﻬِﻘُﻮﻥَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺪْ ﻋَﻠِﻤْﻨَﺎ ﺍﻟﺜَّﺮْﺛَﺎﺭُﻭﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺪِّﻗُﻮﻥَ ﻓَﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﻔَﻴْﻬِﻘُﻮﻥَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺘَﻜَﺒِّﺮُﻭﻥَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun dan al-mutafaihiqun.” Sahabat berkata: “Ya Rasulallah, kami sudah tahu arti ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, lalu apa arti al-mutafaihiqun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi).

Al-Mutasyaddiqun ( ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺪِّﻗُﻮﻥَ) yaitu orang-orang yang suka memfasih-fasihkan diri, meremehkan orang lain dengan bertutur kata menggunakan ungkapan yang mengesankan tingginya ilmu dan rumitnya pembicaraan.

Al-Mutafaihiqun (ﺍﻟْﻤُﺘَﻔَﻴْﻬِﻘُﻮﻥَ) yaitu orang yang banyak bicara lalu menampakkan kesombongannya. Ini merupakan perbuatan yang lebih buruk dari 2 sifat di atas. 

Sifat sombong atau takabbur bisa dari siapa saja, mungkin sombong karena ilmu, harta, kekuasaan atau yang lainnya.

Orang yang seperti ini sangat dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena akhlak yang buruk dan banyak bicara tanpa ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Maka menjaga lisan dari berbicara yang tidak manfaat menjadi kata kunci dalam hal ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa beriman kepada kepada Allah swt dan Hari Akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.”(HR. Bukhori)

Berbicara/mengobrol/bercengkrama yang sifatnya mubah bisa menyeret ke sifatnya makruh. Karena bisa saja dari banyaknya bicara bisa mengungkapkan aib yang selama ini tertutupi. Yang sebelumnya orang tidak tahu aibnya menjadi tahu akibat dari banyaknya bicara.

Adapun nasehat dari Abdullah ibnu Abbas  radhiyallahu ‘anhu, "Banyak bicara diperbolehkan apabila sesuai dengan tempatnya"
Contohnya seperti penceramah, da'i, ulama dan yang lainnya jika yang dibicarakan itu mengandung unsur kebaikan atau nasehat daripada menimbulkan mudharat.

📝 Catatan Kajian
🎀 Ustadz Abu Ahmad Rofi'i Hafizhahullah
📚 Kitab Al-Akhtho'u Fii Adabil Muhadatsah Wal Mujalasah
🕌 Masjid Istiqomah Balikpapan
🗓 Kamis, 9 Dzulqadah 1437 H

Copas dr Grup FSB (bang adit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar