Kakek ini berusia 106tahun. Hafal quran sejak usia 18tahun. Beliau lahir di Afghanistan dan pindah ke Australia, beliau adalah Qari yang membaca al Qur’an saat peresmian kedutaan Afghanistan di Australia. Saat bertemu di Sydney minggu lalu, cucu-cucunya memberitahukan bahwa beliau masih hafal keseluruhan al Quran dan masih dhowam baca quran 5-7 juz perharinya. Hingga detik ini mata, gigi, kaki, tangan dan tubuh beliau masih sempurna. Subhanallah... sungguh jam-jam yang penuh berkah, bertemu mata yang dikeseluruhan hidupnya terkonsentrasi pada al Qur’an yang penuh berkah.
Beliau adalah salah satu motivasi kuat saya berkunjung ke Australia, cucunya berkata; “Saya punya kakek yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, hafidz dan ingin bertemu kamu”. Kesan pertama itu semakin mendalam saat dari kejauhan terlihat beliau menyambut tamunya dipintu, ada satu kalimat yang masih saya catata dari bibirnya; “Welcome my brother” katanya; ‘selamat datang saudaraku’, saya kaget. Harusnya beliau berkata; “Welcome my grandson!” atau selamat datang cucuku! karena saya lebih pantas disebut sebagai cucu atau cicit kecilnya, bukan saudaranya. Namun tiba-tiba beliau mengatakan; “إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬”, “Innamal mu’minuna ikhwah” ‘sesungguhnya setiap mukmin itu bersaudara’.
Saya terkesan sekali, selain membeberkan rahasia bagaimana tips-sehat-seabad-nya beliau memberikan saya banyak nasihat dan ayat-ayat spesifik untuk kesehatan mata, gigi dan organ tubuh lainnya sehingga tidak lapuk dimakan waktu. Subhanallah..
Kakek ini menangis dalam do’anya, terlarut-larut hingga 1 sampai 1,5jam setiap ia membaca ayat qur’an yang terdapat do’a didalamnya. Dia berkali-kali minta di do’akan, hingga membuat saya bertaya; “Kenapa minta dido’akan terus padahal saya lah yang seharusnya minta di do’akan?” dan dengan rendah hati beliau berkata bahwa kesehatannya adalah rezeki ruhani dari Allah karena banyaknya orang yang mendokan kebaikan kepadanya. Tentunya setelah ia melakukan kebaikan kepada orang-orang yang kemudian mendoakan disaat perpisahan dengannya. Disana saya mulai merasakan dan mengerti, bahwa do’a itu lebih berharga dari harta dunia ini.
Sudahkah kita gunakan banyak waktu untuk akhirat kita, sehingga dunia tunduk dan memberikan seluruh harta dan potensinya untuk menunjang keberkahan usia kita. Atau sebaliknya, kita menjual akhirat kita untuk mengejar dunia yang suram dan fatamorgana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar