Selasa, 23 Agustus 2016

Tutuplah Aib Saudaramu


๐Ÿ“Ž TUTUPILAH AIB SAUDARAMU.. 
 
Saudaraku, Ketika kita asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.” 
 
Perbuatan seperti ini selain tidak pantas/tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain. 
 
Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain.  
 
๐Ÿ‘ค Seorang ulama salaf berkata : 
 “Aku mendapati orang-orang yang tidak memiliki cacat/cela, lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang-orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.”(Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/291) 

 
๐Ÿƒ Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua: 
1⃣ Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti ini tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang-orang yang beriman. Allah Ta'ala berfirman: 
 
ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠُุญِุจُّูˆู†َ ุฃَู†ْ ุชَุดِูŠุนَ ุงู„ْูَุงุญِุดَุฉُ ูِูŠ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ู„َู‡ُู…ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุฃَู„ِูŠู…ٌ ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงْู„ุขุฎِุฑَุฉِ 
 
“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Qs. An-Nur 19) 

๐Ÿ“Œ Perbuatan keji disini baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar-benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar. 

2⃣ Seorang yang terkenal suka berbuat maksiat (sejak dahulu) dengan terang-terangan, tanpa malu-malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati-hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup-tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya. " (Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/293) 
 
 
⚫️ Wahai saudaraku.. 
Yang perlu kita ingat, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan, mencari tahu bahkan yang lebih parah adalah menyebarkan aib orang lain.. 
 
๐Ÿ”ด Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, maka Allah Ta'ala PASTI akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada di dalam rumahnya. Baik saat ini ataupun kelak nanti..
 
๐Ÿƒ Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda : 
 
ูŠَุง ู…َุนْุดَุฑَ ู…َู†ْ ุขู…َู†َ ุจِู„ِุณَุงู†ِู‡ِ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุฏْุฎُู„ِ ุงْู„ุฅِูŠْู…َุงู†ُ ู‚َู„ْุจَู‡ُ، ู„ุงَ ุชَุบْุชุงَุจูˆُุง ุงู„ู€ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ูˆَู„ุงَ ุชَุชَّุจِู€ุนُูˆْุง ุนَูˆْุฑَุงุชِู‡ِู…ْ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู…َู†ِ ุงุชَّุจَุนَ ุนَูˆْุฑَุงุชِู‡ِู…ْ ูŠَุชَّุจِุนِ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุนَูˆْุฑَุงุชِู‡ُ، ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَّุจِุนِ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَูˆْุฑَุชَู‡ُ ูŠَูْุถَุญْู‡ُ ูِูŠ ุจَูŠْุชِู‡ِ 
 
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya(Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dalam hatinya.). Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Abu Dawud 4880) hasan shahih 
 
๐Ÿƒ Dan juga sabda Beliau shallahu alaihi wassalam yang lain
 
ูŠَุง ู…َุนْุดَุฑَ ู…َู†ْ ุฃَุณْู„َู…َ ุจِู„ِุณَุงู†ِู‡ِ ูˆَู„َู…ْ ูŠُูْุถِ ุงْู„ุฅِูŠْู…َุงู†ُ ุฅِู„َู‰ ู‚َู„ْุจِู‡ِ، ู„ุงَ ุชُุคْุฐُูˆ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ูˆَู„ุงَ ุชُุนَูŠِّุฑُูˆู‡ُู…ْ، ูˆَู„ุงَ ุชَุชَّุจِุนُูˆْุง ุนَูˆْุฑَุงุชِู‡ِู…ْ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ู…َู†ْ ุชَุชَุจَّุนَ ุนَูˆْุฑَุฉَ ุฃَุฎِูŠْู‡ِ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِ ุชَุชَุจَّุนَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَูˆْุฑَุชَู‡ُ، ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَّุจِุนِ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَูˆْุฑَุชَู‡ُ، ูŠَูْุถَุญْู‡ُ ูˆَู„َูˆْ ูِูŠ ุฌَูˆْูِ ุฑَุญْู„ِู‡ِ 
 
“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelek-jelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi 2032) 
 
๐Ÿ“Œ Aurat di sini adalah aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia. (Tuhfatul Ahwadzi) 
 
Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhuma memandang ke Ka’bah, ia berkata: 
 
ู…َุง ุฃَุนْุธَู…َูƒِ ูˆَุฃَุนْุธَู…َ ุญُุฑْู…َุชَูƒِ، ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُ ุฃَุนْุธَู…َ ุญُุฑْู…َุฉً ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْูƒِ 
 
“Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya di sisi Allah darimu.”(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi 2032) 
 
Karena itu saudaraku..  
Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Allah Ta'ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat.  
Karena barangsiapa yang Allah Ta'ala tutup celanya di dunianya, di hari akhir nanti Allah Ta'ala pun akan menutup celanya sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu alaihi wassalam : 
 
ู„ุงَ ูŠَุณْุชُุฑُ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ุนَุจْุฏٍ ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู„ุงَّ ุณَุชَุฑَู‡ُ ุงู„ู„ู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ 
 
“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.” (HR. Muslim 6537) 
 
๐Ÿ‘ค Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata:
“Tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang-orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua: Allah Ta'ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/360) 
 
 
๐Ÿƒ Sebagaimana pula Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda : 
 
ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูŠُุฏْู†ِูŠ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َ ูَูŠَุถَุนُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูƒَู†َูَู‡ُ ูˆَูŠَุณْุชُุฑُู‡ُ ูَูŠَู‚ُูˆْู„ُ: ุฃَุชَุนْุฑِูُ ุฐَู†ْุจَ ูƒَุฐَุง، ุฃَุชَุนْุฑِูُ ุฐَู†ْุจَ ูƒَุฐَุง؟ ูَูŠَู‚ُูˆْู„ُ: ู†َุนَู…ْ، ุฃَูŠ ุฑَุจِّ. ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ู‚َุฑَّุฑَู‡ُ ุจِุฐُู†ُูˆْุจِู‡ِ ูˆَุฑَุฃَู‰َ ูِูŠ ู†َูْุณِู‡ِ ุฃَู†َّู‡ُ ู‡َู„َูƒَ، ู‚َุงู„َ: ุณَุชَุฑْุชُู‡َุง ุนَู„َูŠْูƒَ ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง، ูˆَุฃَู†َุง ุฃَุบْูِุฑُู‡َุง ู„َูƒَ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ. ูَูŠُุนْุทِูŠ ูƒِุชَุงุจَ ุญَุณَู†َุงุชِู‡ِ … 
 
“Sesungguhnya (di hari penghisaban nanti) Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang-orang yang hadir di mahsyar). Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu adalah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan).’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosanya dan ia memandang dirinya akan binasa karena dosa-dosa tersebut, Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya…” (HR. Bukhori dan Muslim) 
 
 
ููƒู…ุง ุชุฏูŠู† ุชุฏุงู† 
 
"seperti apa kamu memperlakukan, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan" (Syair Arab) 
 
 
Ingatlah wahai saudaraku.. 
Kita amat membutuhkan perlindungan Allah dihari itu..  
Dihari yang amat dahsyat dan menakutkan..  
Dimana semua semua orang lari dari saudaranya, orang tuanya, anaknya, sahabatnya, kerabatnya.. 
Dan hanya padaNya lah hari itu kita bergantung.. 
 
PeDe-kah kita dengan diri kita? 
Ibadah kita? 
Amal kita? 
Sedekah kita? 
Sudah yakinkah dengan amalan-amalan yang selama ini kita lakukan akan menghindarkan kita dan mampu menutup kesalahan serta dosa kita semua? 
Saudaraku.. Kita tetap amat butuh akan ampunan Allah dihari itu.. 
 
Mari perbaiki amal kita..  
Perbaiki keimanan kita hingga masuk ke hati kita.. 
 
_____________________________ 
 
๐Ÿ“š Asy-syariah + penambahan 
 
๐Ÿ‘ค Abdullah bin Suyitno (ุนุจุฏุงู„ู„ู‡ ุจู† ุตูŠุชู†)  
 
๐ŸŒ Telegram : ShahihFiqihWanita 
➡️ Join klik bit.ly/1S3K8sW  
 
๐Ÿ“ฑ Instagram : ShahihFiqihWanita 
➡️ Join klik bit.ly/1QjQTkC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar