Selasa, 26 Mei 2015

Syirik Lawan dari Tauhid

Syirik Lawan dari Tauhid

Syirik adalah mensejajarkan (menyamakan) selain Allah dengan Allah Ta’ala dalam hal-hal yang termasuk kekhususan bagi Allah Ta’ala. Kemusyrikan merupakan kedzaliman yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13)

Zalim adalah meletakan sesuatu pada yang bukan tempatnya. Maka benarlah jika syirik dikatakan zalim, karena syirik mengandung unsur penempatan ibadah bukan pada tempatnya. Inilah kezaliman terbesar yang sekarang banyak terjadi di masyarakat.

Ditinjau dari besar kecilnya, syirik terbagi menjadi dua macam yaitu:

Syirik akbar (besar), yaitu memalingkan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala, seperti doa, kurban, nadzar yang ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, seperti ditujukan kepada penghuni kubur, jin, setan dan lain-lain. Syirik ini dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, mengekalkan pelakunya di neraka, menghapuskan seluruh amal baiknya, pelakunya boleh diperangi dan tidak akan diampuni.
Syirik asghar (kecil), yaitu semua bentuk sarana (perantara) yang akan mengantarkan kepada syirik akbar. Pelaku syirik asghar tidak dikeluarkan dari Islam, akan tetapi berkurang tauhidnya, terancam masuk neraka namun tidak kekal. Syirik ini hanya menghapuskan pahala amal yang bercampur dengan syirik tersebut. Pelakunya tidak diperangi dan masih memungkinkan untuk diampuni (menurut pendapat sebagian ulama). Namun Saudariku, kita harus berhati-hati dengan amal perbuatan kita, agar tidak tercampur dengan syirik kecil ini, seperti sabda Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam, “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ialah syirik kecil, yaitu riya.” (shahih, HR. Ahmad)
Ditinjau dari tampak dan tidaknya, syirik dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

Syirik jali (jelas), yaitu syirik yang terjadi dalam perkataan dan perbuatan. Jadi perbuatan syirik itu tampak dan dapat kita saksikan atau dengarkan.
Syirik khafi (samar atau tersembunyi), yaitu syirik yang terkait dengan niat dan keyakinan. Disebut khafi karena tersembunyi dari diri pelakunya sendiri, terlebih orang lain, atau karena pelakunya menyembunyikannya dari manusia, sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.
Saudariku, inilah syirik, lawan dari tauhid yang sangat penting untuk kita ketahui dan kita cermati dalam setiap amalan kita. Karena perbuatan kemusyrikan tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala apabila pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya. Allah Ta’ala berfirman

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa`: 48)

Maka wajib bagi kita untuk menjaga keimanan kita dari noda-noda syirik. Janganlah engkau mengotori amalmu hanya karena menginginkan pujian manusia. Janganlah engkau khianati Rabb-mu hanya untuk sekedar menengok ramalan bintang di majalah harianmu. Ingatlah balasan untuk kesabaranmu atas semua ini, yaitu surga.

Keistimewaan Ahli Tauhid

Tidak bisa kita mungkiri bahwa ilmu dan amal yang paling mulia adalah ilmu dan amal tauhid, karena ilmu dan amal tersebut berkaitan dengan Dzat Yang Paling Mulia, yaitu Allah Ta’ala. Maka orang-orang yang benar-benar bertauhid akan mendapatkan balasan dan keistimewaan dari Allah Ta’ala, di antaranya:

Mendapatkan ketenangan dan hidayah.
Mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan diterima amalnya di akhirat.
Pasti masuk surga.
Terbebas dari adzab dan api neraka.
Diampuni seluruh dosanya.
Bobot timbangan tauhid mengalahkan bobot timbangan langit dan bumi.
Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan keistimewaan-keistimewaan dari Allah Ta’ala tersebut maka kita harus memurnikan tauhid dalam diri kita dengan memiliki ilmu tauhid yang sempurna, meyakini kebenaran tauhid yang telah diilmui, dan mengamalkan ajaran tauhid dengan penuh ketundukan.

Saudariku, maka sekarang telah jelas, mengapa kita hidup di dunia ini? Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Tujuan yang terpuji yang jika setiap insan merealisasikannya bisa menggapai kesempurnaan, kebahagiaan hidup, dan keselamatan adalah dengan mengenal, mencintai, dan beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Inilah hakikat dari perkataan seorang hamba ‘Laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah).’ Dengan kalimat inilah para Rasul diutus dan semua kitab diturunkan. Suatu jiwa tidaklah menjadi baik, suci, dan sempurna melainkan dengan mentauhidkan Allah semata.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, 2/120)

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memudahkan kita dalam bertauhid kepada-Nya dan menjauhkan kita dari noda-noda kemusyrikan.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Ummu Ahmad
Artikel Buletin Zuhairah

Berbahagialah Dengan Tauhid

Berbahagialah dengan Tauhid

Saudariku muslimah yang dimuliakan Allah..

Pernahkah terbetik olehmu, untuk apakah kita diciptakan di dunia ini, sedangkan pada akhirnya kita akan dimatikan? Ketahuilah wahai Saudariku, Allah Ta’ala itu Maha Berkehendak, Yang menghendaki terciptanya alam semesta dan seluruh isinya serta menghendaki hikmah di balik semua penciptaan ini. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?”

Saudariku, Tahukah Engkau Apakah Tauhid Itu?

Tauhid Secara Bahasa

Kata “tauhid” dalam Bahasa Arab adalah bentuk kata benda abstrak (masdar) dari kata wahhada – yuwahhidu – tauhidan. Wahhada artinya “menjadikan satu sesuatu”. Sesuatu yang satu adalah sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak bersekutu dengan yang lainnya.

Tauhid Secara Syariat

Makna tauhid secara syari’at adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah, yaitu menjadikan seluruh ibadah dan ketaatan hanya untuk Allah Ta’ala semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“ dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al-Anfaal: 39),

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa: 36),

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Al-Mu`min: 14)

Macam-Macam Tauhid

1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan alam semesta, yang mengatur segala urusan, menghidupkan, mematikan, dan memberi rezeki. Tauhid rububiyyah mencakup keimanan kepada tiga hal, yaitu: 1) beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala secara umum, seperti menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan lain-lain; 2) beriman kepada qadha` dan qadar Allah Ta’ala; dan 3) beriman kepada keesaan Dzat-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (٢٧)

“Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).’” (QS. Ali-Imran: 26-27)

Pengakuan tauhid rububiyyah sebenarnya sudah tertanam dalam fitrah manusia, sehingga hampir semua manusia mengakui dan tidak mengingkarinya, baik muslim maupun kafir, baik dahulu maupun sekarang.

Allah Ta’ala berfirman

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ (٣١)

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’” (QS. Yunus: 31)

Namun, ketahuilah wahai Saudariku, pengakuan bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya pencipta, pengatur, pemelihara alam semesta ini, dan pemberi rezeki untuk hamba-hamba-Nya, tidaklah cukup untuk bisa menggolongkan seseorang sebagai seorang mukmin (orang yang beriman). Sebagaimana kaum musyrikin zaman dulu, seperti Abu Jahal dan pengikutnya, mereka mengakui tauhid rububiyyah, namun semua itu tidaklah memasukkan mereka kepada golongan orang-orang yang beriman. Bahkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa salam memerangi dan menghalalkan darah dan harta mereka.

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka beribadah dan ber-taqarrub (mendekatkan diri), seperti berdoa, rasa takut, berharap, bertawakkal, memohon pertolongan dan perlindungan, berkurban, bernadzar, dan lain sebagainya. Uluhiyyah maknanya adalah ibadah. Oleh karena itu, tauhid uluhiyyah disebut juga dengan tauhid ibadah.

Ibadah secara bahasa adalah ketundukan dan kehinaan. Sedangkan ibadah dalam istilah syar’i didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagai “suatu istilah bagi semua hal yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang lahir ataupun batin”.

Ibadah mencakup tiga rukun yang ketiganya harus terkumpul pada seorang hamba, yaitu rasa cinta, harap, dan takut. Ibadah adalah puncak kecintaan dan keridhaan kepada Allah Ta’ala, karena untuk ibadahlah manusia diciptakan oleh-Nya. Hal ini terkandung di dalam firman-Nya

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

“Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Untuk tujuan ini pula diutus para Rasul ‘alaihimussalam, seperti dalam firman Allah Ta’ala

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.’“ (QS. An-Nahl: 36).

Ketahuilah Saudariku, tauhid uluhiyyah ini merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyyah dan tauhid asma` wa shifat (yang akan datang penjelasannya). Kemurnian tauhid uluhiyyah ini diwujudkan dengan dua hal, yaitu: 1) seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’ala saja, bukan kepada yang lainnya; 2) dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan syariat Allah Ta’ala.

3. Tauhid Asma` wa Shifat

Tauhid asma` wa shifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah Ta’ala dalam hal nama dan sifat-Nya yang terdapat di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, disertai dengan mengimani makna-makna dan hukum-hukumnya (konsekuensi-konsekuensinya). Menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah Ta’ala sebagaimana yang telah ditetapkan-Nya untuk diri-Nya sendiri atau ditetapkan oleh Rasul-Nya, begitu pula meniadakan sifat-sifat kekurangan yang ditiadakan oleh Allah dan Rasul-Nya dari diri-Nya. Dengan demikian wajib bagi kita untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raaf: 180).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid asma` wa shifat antara lain:

Harus menetapkan semua nama dan sifat Allah Ta’ala, tidak menafikan (meniadakan) dan tidak pula menolaknya.
Tidak boleh melampaui batas dengan menamai atau mensifati Allah Ta’ala di luar nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Tidak menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan nama dan sifat para makhluk-Nya.
Tidak perlu (dan tidak memungkinkan) untuk mencari tahu hakikat (bentuk sebenarnya) dari sifat-sifat Allah tersebut.
Beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat-Nya. (Mutiara Faidah Kitab At-Tauhid, hal. 10)
Saudariku, ketahuilah bahwa nama-nama Allah Ta’ala tidak hanya berjumlah sembilan puluh sembilan seperti yang sering kita dengar, akan tetapi nama-nama Allah sangatlah banyak. Tidak ada seorang pun yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Ta’ala semata. Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad tentang doa bagi orang yang sedih atau bimbang, disebutkan, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau pergunakan sebagai nama diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan di dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…

Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jum'at

Jangan Lupakan Membaca
Surat Al Kahfi di Hari Jum’at

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari
Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua
Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam
Shohihul Jami’ no. 6470)

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Allahumma sholli ‘ala
nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini
ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca
surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum
mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al
Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari
Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana
berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan
membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. 

Hadits-hadits yang membicarakan hal
ini kami bawakan sebagian pada posting yang singkat
ini. Semoga bermanfaat.
Hadits pertama:

ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺳُﻮﺭَﺓَ ﺍﻟْﻜَﻬْﻒِ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﺃَﺿَﺎﺀَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ
ﻓِﻴﻤَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﺍﻟْﻌَﺘِﻴﻖِ

“ Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam
Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan
Ka’bah. ” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul
Jami’ no. 6471)

Hadits kedua:
ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺳُﻮﺭَﺓَ ﺍﻟْﻜَﻬْﻒِ ﻓِﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﺃَﺿَﺎﺀَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺘَﻴْﻦِ
“ Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari
Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua
Jum’at .” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana
dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan di hari Jum’at dan keutamaan
yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita
melewatkan begitu saja [?]
Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang
bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh
sesuai tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumasyho.com

Doa Adalah Ibadah

~Just One Day One Hadits~

📚Faidah Hadist 2


الدُّعَاءُهُوَ الْعِبَادَةُ  (صحيح , روه أحمد)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Do’a adalah ibadah”. (H.R Ahmad)

Hadist ini semakna dengan firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an surat Ghafir ayat 60

:(وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ) 


'Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".'

[Surat Ghafir : 60]

Faidah :
Do’a terbagi menjadi 2 : do’a ibadah dan do’a masalah.
Perlu diketahui bahwa keduanya saling berkaitan kareena didalamnya terkandung maksud pendekatan diri kepada Allah, baik dengan meminta agar didatangkan suatu manfa’at dan ditolak suatu mudhorot (dan inilah makna do’a masalah) atau dengan beribadah kepadaNya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya (dan inilah makna do’a ibadah).

Sehingga –dengan pengertian diatas- ibadah ini hanyalah untuk Allah dan tidak boleh ditunjukkan kepada selainNya. Bila hal itu terjadi –ditunjukkan kepada selain Allah- maka ia telah berbuat syirik besar.

Gambarannya :
Seseorang yang memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah, semisal bersujud kepada selain Allah, menyembelih bukan atas nama Allah, dll disertai pengagungan dan pendekatan diri kepadanya,  maka ia telah berbuta syirik karena hal tersebut –ibadah disertai rasa pengagungan dan pendekatan  diri- merupakan kekhususan sifat uluhiyah Allah. Dan dia –dengan perbuatannya itu- telah menjadikannya sebagai tandingan Allah.

Dan juga seseorang yang berdo’a, meminta kepada si mayit atau meminta hal-hal yang tidak bisa dipenuhi kecuali hanya Allah yang mampu mengabulkannya, semisal meminta diluaskan rezeki, dimudahkan segala urusan, dijauhkan dari bala bencana  maka ia telah berbuat syirik besar.
Mengapa ? karena ia tidak mungkin melakukan hal demikian kecuali berdasarkan keyakinannya bahwa pihak yang diminta memiliki kemampuan mengatur urusan alam semesta. Padahal, hanya Allah satu-satunya Dzat yang mencipta,memiliki dan mengatur alam semesta.

Dan syirik dalam do’a merupakan hal yang sering dan banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, bisa dikategorikan sebagai sumbernya syirik. Dan selayaknya bagi seorang muslim untuk membentengi dirinya, keluarganya, dan masyarakat disekitarnya dari bahaya syirik. Yaitu dengan memahami makna dan hakikat tauhid serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Wallahu a'alam

@ Ridwan Arifin
(Mahasiswa Universitas Islam Madinah )

♻Program Jodoh. 
{Just One Day One Hadits}

💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠

📱 Untuk kritik dan saran serta informasi pendaftaran Program JODOH dapat menghubungi no#0818-0819-4040 (via WhatsApp)

💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠

Hak Allah Atas Hamba-Nya Dan Hak Mahluk

PROGRAM JODOH 
~Just One Day One Hadita~

Faidah Hadits ke 1
 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

قال النبي صلى الله عليه وسلم : اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن. رواه الترمذي

Hadits ini berisi dua pokok pembahasan penting, yaitu hak Allah atas hamba-Nya dan hak sesama makhluk.

Adapun yang pertama (yaitu yang terkait dengan hak Allah) maka yang dimaksud adalah agar hamba senantiasa bertakwa kepada Allah, dimana pun & kapan pun, selagi dia masih hidup di dunia ini.
Dan wasiat takwa merupakan wasiat yang terus disampaikan oleh seluruh Nabi & Rasul yang diutus.
Secara ringkas, takwa adalah menjalankan perintah Allah -yang wajib ataupun sunnah- dan menjauhi larangan-Nya -yang haram ataupun makruh-, baik yang terkait dengan ucapan maupun perbuatan, amalan zhahir maupun batin.
Kemudian, ketika hamba menyadari bahwa dia tidak bisa secara sempurna menerapkan takwanya (maknanya ia tidak terlepas dari salah & dosa), maka Allah memerintahkan agar ia berbuat kebaikan dengan segala macam bentuknya karena hal tersebut bisa menghapus kesalahan atau kekurangan yang terjadi.

Sedangkan yang kedua (yang terkait hak sesama makhluk) terkandung dalam anjuran untuk berakhlak baik kepada seluruh manusia. 

Sehingga siapapun yang mampu menerapkan takwa dengan sebenar-benarnya dan pandai menyikapi manusia -dengan segala perbedaannya- dengan akhlak yang baik, maka ia telah memperoleh seluruh kebaikan. Hal itu karena ia bisa memenuhi hak Allah & hak sesama makhluk, dan juga karena ia tergolong orang yang berbuat ihsan dalam beribadah dan bermuamalah.


اللهم اجعلنا من المتقين والمحسنين.
والله تعالى أعلم.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.
اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

@ Ridwan Arifin
(Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

Tambahan...

Ibnu Qoyyim menyebutkan dalam kitan beliau alfawaid.

Di dalam diri nabi terhimpun ketakwaan dan akhlak yang mulia. Sesungguhnya, ketakwaan kepada Allah menyebabkan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya menjadi baik. Adapun akhlak yang baik, sikaf ini akan menjaga keharmonisan hubungan di antara sesama makhlukNya.

Kesimpulannya, dengan takwa kepada Allah, seorang hamba akan di cintai oleh Allah, sedangkan dengan Akhlaq yang baik seseorang akan di cintai oleh orang lain.(irh)

Wallahu A'lam.
Wallahul Muwaffiq.

♻Program Jodoh.

💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠

📱 Untuk kritik dan saran serta informasi pendaftaran Program JODOH dapat menghubungi no#0818-0819-4040 (via WhatsApp)

💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠

Nama Dan Sifat-sifat Allah

🎬 URGENSI KAJIAN NAMA & SIFAT-SIFAT ALLAH

Manhaj Ahlussunnah wal Jamaa'ah dalam perkara Al-Asmaa' was Shifaat ialah mengimani semua nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya. Tidak menyelewengkan maknanya, menolaknya, menggambarkannya atau menyerupakannya dengan makhluk.

Nama dan sifat Allah secara penamaan bisa saja sama, akan tetapi pada hakikatnya berbeda.Allah mempunyai sifat Ada, makhluk-Nya juga memiliki sifat ada. Namun sejatinya Ada-Nya Allah berbeda dengan ada-nya makhluk. Ada-Nya Allah tidak berpermulaan, sedangkan ada-nya makhluk berpermulaan dan keberadaannya diadakan oleh pihak lain yang mengadakannya. Perhatikan, nama sifatnya sama, yaitu "ada", akan tetapi esensinya berbeda. Begitu pula sikap kita terhadap sifat-sifat Allah yang Mahasempurna lainnya.

Para Ulama menyampaikan, bahwa memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan pemahaman yang benar adalah satu-satunya jalan yang paling akurat untuk mengantarkan seorang hamba mengenal siapa Tuhannya yang haq. Dan pengenalannya yang benar itulah yang akan menjadi landasan utama dalam ibadah ia kepada Allah. Ibadah yang disertai rasa cinta, takut, dan menggantungkan harapannya hanya kepada Allah semata. Praktis orang-orang yang tidak memahami tauhid Al-Asmaa' was Shifaat dengan pemahaman yang benar seperti yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wasallam dan para shahabat beliau, sejatinya mereka belum mencapai ma'rifatullah. Mustahil mereka bisa beribadah kepada Allah dengan benar.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan, "Manakala semakin bertambah ilmu seorang hamba terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka akan semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan dirinya kepada Allah. Bekal ilmunya itu akan menumbuhkan perasaan malu, pengagungan, pemuliaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, tawakkal, selalu kembali, ridha serta tunduk hanya kepada perintah Allah." (Raudhatul Muhibbin wa Nuz-hatul Musytaaqin hal. 406)

Demikian sedikit faidah penting yang menjadi urgensi pembahasan tauhid Al-Asmaa' was Shifaat, wallaahul muwaffiq.

✒Fikri Abul Hasan
WhatsApp المدرسة السلفية

Bacalah Alquran Dengan Tartil

📖📖📖📖📖📖📖📖

Bismillah
WAHAI ANAKKU BACALAH ALQURAN DENGAN TARTIL

Anakku buah hatiku,
Dalam hiruk pikuknya fenomena bacaan al Quran dengan berbagai gaya yang ada.
Maka dalam keprihatinanku, 
Aku wasiatkan kamu sekalian,
Dengan beberapa untaian mutiara kata ini, mudah-mudahan kamu dapat memahaminya dan berpegang teguh dengannya.

Anakku buah hatiku
Bacalah alquran sesuai apa yang Robbmu perintahkan.
Bacalah dengan tartil sebagai mana perintah-Nya dalam surat al Muzzammil.
Tartil menurut ulama tafsir baik Ibnu Kastir,Thobari,Assa'di dan lai nny menyatakan.
Dengan tajwid,  makhrajnya ,waqafnya,tadabbur.
Bukannkah Rabb kita telah menyatakan dalam surat Yusuf ayat 2:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya"
Wahai anakku buah hatiku cukupkan olehmu hanya mencontoh Nabi kita saja salawat dan salam kepadanya.
Karena Allah Ta'ala telah perintahkan kita dalam Quran surat al Ahzab ayat 21:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah"

Anakku buah hatiku..
Ingatlah Quran turun dalam bahasa Arab, dan Nabi  shalallah 'alaihi wasallam yang mulia adalah orang arab berbahasa arab.
Dan Allah Ta'ala Dzat Yang Maha Pencipta Yang Maha Tahu dengan apa yang telah diciptakanNya telah memerintahkan kita untuk meneladani Nabi-Nya shalallah 'alaihi wasallam.

Meneladani dan mencontoh baik dalam masalah:
Aqidah Tauhid
Ibadah kepada Allah
Berakhlak yang mulia
Berkeluarga
Bermasyarakat dan lainnya..
Maka termasuk bagaimana Beliau shalallah 'alaihi wasallam membaca Al Quran.

Wahai annakku bacaan al Quran telah diwarisi turun temurun dari Nabi shalallah 'alaihi wasallam kapada Shahabat rodhiallah 'anhum, terus kepada tabi'in dan terus kepada pengikut tabi'in yang Allah Rahmati mereka.
Dan diteruskan lagi pada para ulama yang meneruskan lagi hingga ulama-ulama yang.menerima jalur sanad atau mata rantai yang tidak terputus.

Maka cukupkanlah olehmu cara baca yang telah ada mata rantainya.
Jangan kau hiraukan cara baca yang berlanggam jawa, atau sunda, batak, papua, atau cara-cara yang tidak ada jalur sanadnya.

Anakku buah hatiku...
Alhamdulillah diantaramu ada yang telah. menghafal 30 juz.
Ada yang 12 juz,ada yang 8 juz ada yang 4 juz.
Namun itu semua tidak ada artinya jika akhlakmu dengan Quran tidak kau jaga.
Jika yang kau hafal tidak menjadi pedoman hidupmu.
Jika yang kau hafal tidak membentuk akhlakmu.
Bukankah akhlak Rasul kita shalallah 'alaihi wasallam adalah Al Quran?
Sesungguhnya Al Quran adalah kalamullah....
Maka hormat dan agungkanlah...
Jangan sekali-kali kau meremekannya.....
Dan salah satu bentuk meremehkan al-Quran.....dengan... hanya. ...menjadikan hiasan dinding dan menyamakan dengan lagu-lagu hiburan.....
Anakku buah hatiku.....
Al Quran dibaca oleh imam dalam shalat dengan khusu' dan dengan bacaan yang bersanad saja.
Banyak makmum yang masih lalai,
melamun, tidak meresap, bahkan ada yang hatinya tidak hadir.

Bayangkan jika imam melanggamkan dengan langgam jawa, sunda, madura, seriosa, atau hip hope.
Apakah mungkin makmum bisa khusu'???
Laa haulaa walaa quwwata illa billah.
Semoga mereka-mereka yang melakukannya dan menyetujuinya serta membelanya semuanya mendapat hidayah taufiq hidayah kembali ke sunnah yang suci....
Sunnah Nabi kita yang mulia.... 
Muhammad shalallah 'alaihi wasalam.
Aamiin Ya Rabbal'alamiin
Allahu'alam
Pondok.Aren.

Abimu ..dlm.keprihatinan yg dalam..
"Abdurrahman Ayyub"

🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙