Jumat, 24 Juli 2015

Tanda Allah Tidak Menginginkan Kebaikan Untukmu

Tanda Allah Tidak Menginginkan Kebaikan Untukmu

Selasa, 14 Juli 2015 , 13:21:24
Oleh : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

♻ Dishare Oleh : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc


Tamparan Siang !


Bismillah,

Alloh Subhaanahu wa ta'ala berfirman:


(وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ)


"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu".

(QS. At-Taubah: 46)


Syekh Ibnul Utsaimin -rahimahullah- berkata,


"Ayat ini adalah ayat yang sangat penting sekali, karena ayat ini adalah barometer bagi seorang hamba..


📌 Apabila kau melihat manusia semua berlomba-lomba..

✅ Untuk melakukan ketaatan

✅ Sholat malam

✅ Tarawih

✅ Memperbanyak doa

✅ Sungguh-sungguh di atas sunnah dan mengamalkan sunnah

✅ Sungguh-sungguh beribadah kepada Alloh Azza wa jalla


⛔ SEDANGKAN dirimu bermalas-malasan melakukan semua itu...


📛 Maka sadarilah bahwa Alloh tidak menginginkan kebaikan untukmu...

Sehingga Alloh melemahkan semangatmu

❌ Karena Alloh tidak menyukai amalanmu dan Alloh tidak suka engkau mendapat kebaikan sebabnya adalah penyakit yang ada di dalam hatimu."


📚Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin 


✔ http://ar.miraath.net/fawaid/11705


::Indahnya Islam, bagi kaum yg berfikir::


___

📱 Dishare Ustadz Kholid Syamhudi, Lc -hafizhahullah- tgl 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015

Sudah dibaca oleh 107 orang

Share:

Mungkin Ini Adalah Kali Terakhir

Mungkin Ini Adalah Kali Terakhir…

Begitulah ia selalu. Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap  perindunya. Sudah berabad-abad lamanya. Dan ia masih saja begitu. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya.

 Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris Kalamullah , yang setiap jengkal udaranya mengantarkan do'a-do'a para hamba menembus tiap lapis langit.

Sahabatku…
Begitulah ia selalu. Hari ini, aku tak tahu apakah engkau dan aku termasuk dalam barisan kafilah orang-orang yang merindu padanya. Dulu mungkin iya, tapi entahlah sekarang. Sebab ia hanya menggoreskan makna dalam hati dan jiwa yang merindukannya. Jadi semoga saja, ia menggoreskan arti kerinduan itu dalam hatiku, dan juga hatimu.

Hari ini, entah untuk ke berapa kalinya ia hadir di sini. Dalam kehidupan kita.
Bila hari ini, Allah mengaruniakan 25 tahun padamu, maka berarti setidak-tidaknya ia telah hadir padamu sebanyak 15 kali –sejak usia akil balighmu-. 

Namun bila karunia Allah padamu hari ini telah sampai pada titik 60 tahun, maka itu artinya ia telah menjumpaimu –setidaknya-tidaknya- sebanyak 45 kali.
Apakah artinya 15 kali perjumpaan itu bagimu? Atau mungkin hingga pertemuan ke 45 dengannya ini engkau masih saja menemukan sebuah arti dari setiap kedatangannya? Entahlah.

 Hanya Rabb-mu lalu engkau jua yang lebih mengetahuinya.
Namun yang pasti, ia tak pernah jemu menjumpaimu. Selama Rabb-nya menghendaki, ia akan selalu menghampiri hidupmu, tanpa pernah peduli apakah engkau begitu rindu padanya atau justru tak mengharapkan kehadirannya sama sekali. Sungguh, ia akan tetap datang, sahabatku…Sekali lagi, walau engkau bukan perindunya.

Ia selalu saja begitu. Sejak ia hadir dalam kehidupan generasi terbaik ummat ini, kemuliaannya tak pernah berubah. Ia tetap saja agung. Dan tetap saja dimuliakan. Siangnya memancarkan panas yang melelehkan dosa-dosa hamba, sedangkan malam-malam semerbaknya mengangkat mereka begitu dekat pada Sang Rabb. Sungguh, kebaikannya tak pernah berubah. Sebagaimana ia telah menjadi sebab membubung tingginya derajat generasi shaleh terdahulu, maka seperti itu pula ia hari ini. Yah, Ramadhan selalu saja demikian…

"Hamba yang berpuasa akan dikaruniakan dua kegembiraan," ujar sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu ketika. "Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabb-nya", lanjut beliau –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidzy. Kerinduan pada Ramadhan bermula dari sini. Saat jiwa dan hati kita selalu teringat akan dua kegembiraan ini. Kegembiraan pertama tumpah di dunia ini. Ketika siang yang panas kita lewati dengan berbagai aktifitas. Peluh itu berbulir menetes. Tapi peluh itu menyimpan arti.

 Kerongkongan kering. Perut berbunyi khas rasa lapar. Hingga akhirnya, matahari berpindah menyinari belahan bumi yang lain. Di tanah kita, sang mu'adzin mengumandangkan adzan maghrib. Kita, entah di mana, mungkin bersama keluarga tercinta, mungkin pula bersama saudara seiman…Yah, entah di mana, mata kita berbinar gembira. Seteguk air putih atau sebutir kurma cukup sudah mengalahkan segala kekayaan duniawi saat itu. Sejuknya turun menjelajahi kerongkongan, lalu menebarkan kesegaran yang luar biasa ke penjuru tubuh kita.
Sahabatku…

Terbayangkankah rasa itu di benakmu ? Disitulah kegembiraan pertama kita tumpah bersama. Di kala seteguk air putih atau sebutir kurma jauh lebih berharga daripada dunia seisinya. Saat yang menyadarkan kita –sungguh- bahwa dunia memang tidak lebih berharga dari sehelai sayap nyamuk di sisi Penciptanya.
Kegembiraan pertama ini akan terjadi berulang-kali selama kita di dunia. Namun di atas itu semua, ada kegembiraan lain yang tak pernah dapat terlukiskan oleh kata. Ini adalah kegembiraan puncak. Tapi ia tidak kau peroleh di dunia fana ini.

 Kelak bila semuanya telah usai, amalmu telah ditimbang dan dihitung, lalu engkau diputuskan memasuki kafilah orang-orang selamat…Maka tunggulah saatnya. Tidak lama lagi. Kala Rabb-mu memanggilmu untuk berjumpa denganNya. Tiada perantara. Yah, engkau sungguh akan melihatNya dengan mata kepalamu sendiri. Begitu jelas. –Sungguh aku tak punya kata-kata lagi untuk ini, sahabat…-, tapi kerinduanmu padaNya akan tumpah di sana. Di hadapan Rabb yang berpuluh-puluh tahun engkau yakini rububiyah, uluhiyah, asma' dan shifatNya yang mulia walau engkau tak pernah melihatNya…Di hadapan Rabb yang berpuluh-puluh tahun lamanya engkau sujud padaNya tanpa pernah menyaksikanNya…Di hadapan Rabb yang semua rasa cinta, khauf, dan raja'mu, yang semua doa dan istighfarmu, yang semua rasa lapar berpuasa, setiap kepingan harta zakatmu, setiap torehan luka dalam medan jihadmu hanya kau tujukan untukNya…Di hadapanNyalah hari itu engkau benar-benar tegak melihatNya, lalu karena KeMahabesaranNya engkau tak kuasa untuk tidak sujud…langsung di hadapanNya. Di hadapan Sang penguasa jagat semesta. Di hadapan Allah…
Terbayangkankah kegembiraan itu, sahabat ?

Dan, Ramadhan selalu saja begitu. Sudah beratus-ratus tahun ia menawarkan janji yang sama. Janji akan dua kegembiraan. Ia tak pernah jemu menawarkannya. Kita sajalah mungkin yang jemu dengan janji itu. Ramadhan tak pernah berubah. Hati kitalah yang terbolak-balik. Dan kita selalu saja lalai meluruskan hati itu. Sudah demikian hitam legamkah ia? Apakah ia juga telah menjadi sebuah instrument yang bebal ? Semoga saja tidak.
Sahabatku…
Berilah arti untuk Ramadhan kali ini. Jangan pernah biarkan ia pergi begitu saja, persis seperti yang aku dan engkau lakukan setahun bahkan bertahun-tahun yang silam. Bukankah dulu ketika ia hadir, kita membiarkannya sepi. Hingga ia beranjak, kita sungguh sepi. Entah ada atau tidak dosa-dosa yang terampuni. Entah rasa lapar dan dahaga itu termaqbulkankah di sisiNya. Entah qiyaam itu adakah nilainya. Entah berhakkah kita melewati pintu Ar Rayyan kelak. Entahlah…
Bukankah Allah begitu pemurahnya padaku dan padamu. Hari ini, Ia masih saja memberikan satu kali lagi kesempatan itu. Sementara aku dan kau hampir saja melupakan bahwa di kursi depan meja makan itu, setahun yang lalu masih ada si fulan –yang bisa saja adalah ayah, ibu, saudara, anak dan kerabat kita-, tapi sekarang mereka tidak lagi di kursi itu. Tawanya tiada. Karena ia juga tiada.
Betapa kasihnya Ia pada kita saat Ia masih membiarkan nafas ini berhembus hari ini. Sementara aku dan kau nyaris tidak menyadari bahwa di barisan shaf ini, tepat di sisi kita setahun yang lalu si fulan –entah itu siapa- masih berdiri, bahkan meneteskan air mata di saat-saat qiyaam. Tapi jawablah, sahabatku, ke mana ia pergi Ramadhan ini ? Mungkin ia mendahului kita menjemput balasan mulia Rabbnya. Lalu kita, apa yang akan kita jemput ?
Jadi jangan lepaskan Ramadhan ini pergi begitu saja. Jangan ucapkan perpisahan dengannya sebelum ia meninggalkan arti dalam lembaran amalmu. Sahabat, mungkin ini adalah kali terakhir…Untukmu dan untukku. Setelah itu tiada. Yah, tiada lagi Ramadhan, tiada lagi shiyam, tiada lagi qiyaam, tiada lagi tilawah, tiada lagi shadaqah, tiada lagi istighfar, tiada lagi do'a, tiada lagi I'tikaf, tiada lagi 'idul fithri. Semuanya tiada. Yang ada hanya hisab.
Dekaplah ia erat selagi engkau diizinkan untuk mendekapnya, sebab mungkin ini adalah kali terakhir bagi kita untuk mendekapnya penuh rindu.
(Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Islamy
dan dibacakan dalam beberapa kesempatan Ramadhan)
Muh. Ihsan Zainuddin (29/9/2004)
Abul Miqdad al-Madany di 15.55
😭😭😭

Sedih Berpisah Dengan Ramadhan

💦KESEDIHAN PARA SALAF BERPISAH DENGAN RAMADHAN SANG KEKASIH💦

Betapa meletihkan hari penantian itu...
Namun keletihan itu lenyap dengan perjumpaan denganmu...
Hari demi hari ku lalui bersamamu...
Namun semuanya pasti akan berlalu....
Perpisahan yang menyedihkan diriku...
Aku tak tau apakah akan berjumpa lagi denganmu...
Oh Ramadhan kekasihku...

Itulah waktu...

Allah -subhanahu wa ta'ala- berfirman;

وتلك الأيام نداولها بين الناس

"Itulah hari-hari yang kami pergilirkan manusia padanya".
QS. Ali 'Imran: 140.

Wahai saudaraku...

Lihatlah para salaf ketika dimasa penantian mereka dengan ramadhan dan lihatlah pula tatkala mereka berpisah dengannya.

Berkata Ibnu Rajab Al Hanbaly -rahimahullah-;

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

"Adalah mereka (para salaf) berdoa kepada Allah semenjak enam bulan sebelumnya agar dipertemukan dengan ramadhan, lalu kemudian setelah itu mereka berdoa selama enam bulan agar menerima amalan mereka (dibulan ramadhan yang telah dilalui)".
📒Lathaif Al Ma_arif (186).

Lihatlah para salaf...
Tak satupun waktu dalam kehidupannya kecuali berada diantara penantian dan harapan dengan ramadhannya, karena mereka memiliki pengetahuan yang dalam tentang keutamaan serta keluar biasaan bulan tersebut.

Dan juga mereka menampakkan kesedihan tatkala berpisah dengannya, sebagaimana Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan;

 كان بعض السلف يظهر عليه الحزن بوم عيد الفطر فيقال له؛ إنه يوم فرح وسرور، فيقول؛ صدقتم ولكني عبد أمرني مولاي أن اعمل له عملا فلا أدري أيقبله مني أم لا؟؟

"Adalah sebagian para salaf, mereka menampakkan kesedihan yang mendalam pada hari 'iedul fitri, maka dikatakanlah kepadanya; bukankah hari ini adalah hari kegembiraan dan kebahagiaan?? Maka ia mengatakan; benar, namun aku hanyalah seorang hamba, yang Sang pemilik ku memerintahkanku agar aku beramal karena-Nya, sedangkan aku tidak mengetahui apakah Dia menerimanya ataukah tidak??".
📒Latha_if Al Ma_arif (187).

Suatu hari Wahb bin Al Warad -rahimahullah- pernah melihat suatu kaum yang sedang tertawa terbahak-bahak dihari raya, maka beliaupun berkata;

ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻫﺆﻻﺀ ﺗﻘﺒﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺻﻴﺎﻣﻬﻢ ﻓﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻌﻞ
ﺍﻟﺸﺎﻛﺮﻳﻦ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻘﺒﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺻﻴﺎﻣﻬﻢ ﻓﻤﺎ ﻫﺬﺍ
ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺨﺎﺋﻔﻴﻦ

"Jika mereka ini termasuk orang-orang yang diterima ibadah puasanya maka bukanlah tertawa ini perbuatan orang-orang yang bersyukur, dan jika mereka termasuk orang-orang yang tidak diterima ibadah puasanya maka ini bukanlah perbuatan orang-orang yang memiliki rasa takut".
📒 Lathaif al-Ma’arif (187)

Mereka sangatlah khawatir jangan sampai amalan yang mereka lakukan dibulan ramadhan tersebut tidak diterima oleh Allah -azza wa jalla-.

Berkata 'Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'anhu-;

ﻳﺎ ﻟﻴﺖ ﺷﻌﺮﻱ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻘﺒﻮﻝ ﻓﻨﻬﻨﻴﻪ، ﻭﻣﻦ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﻤﺤﺮﻭﻡ ﻓﻨﻌﺰﻳﻪ

"Wahai aduhai, seandainya aku mengetahui siapakah gerangan yang diterima amalannya sehingga aku bisa mengucapkan ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya sehingga aku dapat melayatnya".
📒Lathaif Al Ma_arif (187)

Demikian pula yang dikatakan 'Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu 'anhu-;

ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻘﺒﻮﻝ ﻣﻨﺎ ﻓﻨﻬﻨﻴﻪ، ﻭﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺤﺮﻭﻡ ﻣﻨﺎ
ﻓﻨﻌﺰﻳﻪ

"Siapakah diantara kita yang diterima amalannya sehingga aku bisa memberikan ucapan selamat kepadanya??, dan siapakah yang diharamkan dari kebaikannya sehingga aku bisa berbela sungkawa??".
📒Lathaif Al Ma_arif (187)

Demikianlah potret para salaf tatkala dirundung kesedihan karena terpisahkan dengan ramadhan yang selalu mereka dambakan.

Semoga Allah -azza wa jalla- menerima seluruh amal ibadah kita dibulan yang mulia ini.
Aamiin yaa mujibas saa_iliin.

✏Al Ustadz Fauzan Al Kutawy
-------------------
📱WA Silsilah Durus Linnisa-089688865305📚

Bersabarlah Dengan Kawanmu

Bersabarlah dengan kawanmu...

Terkadang ia ingin dihargai
Terkadang ia ingin disanjung
Terkadang ia ingin dipahami
Terkadang ia ingin didahulukan
Terkadang ia ingin dituakan
Terkadang ia ingin paling didengar 
Terkadang ia ingin dianggap paling kuat
memang resiko berkawan lebih berat dibanding tidak berkawan.
maka solusi terbaik adalah bersabar dengan kelakuan kawanmu...
DAN SEMOGA KAMU KUAT...
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan JANGANLAH ENGKAU MEMBIARKAN KEDENGKIAN DALAM HATI KAMI TERHADAP ORANG-ORANG (SAUDARA) BERIMAN, Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". QS. Al Hasyr: 10.
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهِمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي لا يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَلا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهِمْ " .
Artinya: "Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas kelakuan buruk mereka lebih besar pahala dari seorang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka." HR. Ibnu Majah.
Begt jg terhadap diriku dhaif ini ya ummahat 😘

Tanda-tanda Diterimanya Amal Shalih di Bulan Ramadhan

🌙🌻 TANDA-TANDA DITERIMANYA (AMAL SHALIH) di BULAN RAMADHAN
---------------------------
▪ Asy-Syaikh al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

"Termasuk dari tanda-tanda diterimanya (amalan shalih) di bulan Ramadhan dan bulan selainnya adalah : TERSUSULNYA KEBAIKAN DENGAN KEBAIKAN LAINNYA.
👍🔑  Jika keadaan seorang muslim setelah melalui Ramadhan menjadi keadaan yang baik, tetap memperbanyak kebaikan dan amalan-amalan shalih, inilah tanda yang menunjukkan « amalan diterima »


👎💨 Jika sebaliknya, amalan kebaikan justru disusul dengan amalan buruk, keluar dari bulan Ramadhan malah mengikutinya dengan amalan kejelekan, juga berbagai kelalaian, serta sikap berpaling dari ketaatan kepada Allah, inilah tanda yang menunjukkan « tidak diterimanya amalan Ramadhan ».

📋📌 Dikutip dari Majalis Syahru Ramadhan hal 119.

🌿✏🌿✏🌿✏🌿

•••••••••••••••••••••
🌠📝 Majmu'ah Manhajul Anbiya 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kamis, 23 Juli 2015

Mendidik Anak Perempuan

Memiliki Anak Perempuan Memberikan
Tantangan Tersendiri. 

Kenali 10 Kiat
Mengasuh Kakak-Adik Perempuan

BY SAYANGIANAK · JULY 9, 2015

Memilik Anak Perempuan Kakak-adik?  
Tentu memiliki
tantangan tersendiri bukan?
Hal itu pula yang dialami penulis novel The Pretty One,
Lucinda Rosenfeld. 
Dari pengalamannya, Rosenfeld
berbagi cara menghadapi anak perempuan untuk
menghindari munculnya perselisihan.

Seperti dikutif dari kompas.com , berikut 10 Kiat
Mengasuh Kakak-Adik Perempuan dari Lucinda
Rosenfeld:

1. Jangan pernah membandingkan
prestasi anak perempuan, ini hanya
akan memperkeruh suasana
persaingan anak.
Anak perempuan, si Kakak dan Adik, secara alami akan
saling berkompetisi. 
Jadi, orangtua sebaiknya tak
membandingkan satu dengan lainnya karena hal ini
hanya akan memperkeruh suasana persaingan tersebut.
Termasuk membandingkan prestasi si Kakak yang
mungkin lebih baik dari si Adik, atau sebaliknya.

2. Hindari memberikan label,
karena ini berdampak jangka
panjang pada anak
Sebaiknya hindari memberikan label kepada kedua anak
perempuan. 
Misalnya menyebut si Kakak, “Si cantik” atau
si Adik, “Si cerdas” dan lainnya. Pelabelan saat masa
belia ini berdampak jangka panjang pada anak. 
Apa yang
orangtua katakan tentang dirinya, akan memengaruhi
perilakunya dan berdampak pada tumbuh kembangnya.

3. Berikan pujian dengan adil demi
membangun kepercayaan dirinya.
Anak-anak masih belajar membentuk kepercayaan
dirinya. 
Karenanya penting bagi orangtua untuk
memberikan dukungan positif kepada anak-anak demi
membangun kepercayaan dirinya. 
Salah satu caranya
dengan memberikan pujian kepada anak, secara adil.
Terutama ketika salah satu anak perempuan lebih baik
dalam segala hal, berikan pujian yang tepat kepada anak
perempuan lainnya yang tak memiliki prestasi seperti
saudaranya.

4. Membedakan kegiatan
ekstrakurikuler agar masing-
masing anak perempuan dapat
menemukan minat dan bakatnya
Sebaiknya bedakan kegiatan ekstrakurikuler anak
perempuan. 
Jika si Kakak suka kegiatan musik, dorong
anak lainnya untuk beraktivitas di kegiatan olahraga.
Tujuannya agar masing-masing anak perempuan dapat
menemukan minat dan bakatnya, serta membentuk
kepribadiannya. 
Dengan membedakan kegiatan, orangtua
juga bisa mengurangi friksi yang terjadi karena
persaingan alami pada anak-anak perempuan.

5. Luangkan waktu terpisah untuk
setiap anak, karena anak juga
butuh diperlakukan istimewa
Waktu bersama keluarga memang penting. 
Namun,
luangkan juga waktu pribadi bersama setiap anak
perempuan. 
Bisa berakhir pekan secara terpisah, dengan
si Kakak pada Sabtu, dengan si Adik pada Minggu
misalnya. 
Setiap orang butuh diperlakukan istimewa,
termasuk anak-anak perempuan.

6. Jangan memihak, biarkan
mereka menyelesaikan masalah
sendiri selama situasinya masih
terkontrol
Saat anak-anak perempuan bertengkar, jangan membela
salah satunya, siapa pun yang dianggap sebagai
korbannya. 
Saat anak masih kecil, ingatkan bahwa saat
bertengkar sebaiknya hindari kontak fisik. 
Kalau anak
sudah semakin besar, remaja atau jelang dewasa muda,
biarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri selama
situasinya masih terkontrol.

7. Berikan waktu kepadanya untuk
menikmati me time.
Setiap orang butuh waktu untuk dirinya sendiri, termasuk
anak-anak perempuan. 
Jadi, jika saat akhir pekan, anak
perempuan ingin menyendiri, terutama untuk anak yang
sudah lebih besar, maka berikanlah waktu untuknya.
Termasuk menyendiri dari saudara perempuannya. 
Jika
anak memilih menyendiri di rumah, biarkan ia menikmati
waktunya di kamar, sendirian. Kalau ia memilih ke luar
rumah, apalagi karena ia sekamar dengan saudara
perempuannya, berikan waktu kepadanya untuk
menikmati me time. 
Waktu untuk diri sendiri juga penting
diberikan saat anak-anak perempuan Anda berselisih.

8. Adakan Aktivitas bersama,
dengan begitu anak-anak akan
belajar cara berkompromi dan
berbagi
Ada waktunya untuk melakukan aktivitas bersama. 
Jadi
ciptakan momen untuk kedua anak perempuan Anda
melakukan satu aktivitas yang sama. 
Menonton acara
televisi favorit bersama di rumah misalnya. 
Kedekatan
semacam ini juga perlu diciptakan dan dibangun sejak
kecil. 
Dengan begitu anak-anak akan belajar cara
berkompromi dan berbagi.

9. Batasi kebiasaan mewarisi
barang-barang Kakak ke Adik
Dengan maksud penghematan, seringkali orangtua
memberikan barang-barang Kakak kepada si Adik. 
Tak
ada salahnya dengan cara ini, namun sebaiknya dibatasi.
Jangan semua barang Kakak diwariskan ke Adik, artinya
jangan sampai si Adik hanya mendapatkan/memakai
barang “bekas” kakaknya. Belikan juga barang baru
untuk dipakai Adik perempuan, karena setiap anak tentu
memiliki referensi penampilan yang berbeda.

10. Jangan memilih anak favorit,
perhatian orangtua harus seimbang
Perlakukan kedua anak perempuan Anda dengan setara.
Jangan pernah memilih siapa yang paling Anda
favoritkan. 
Perhatian orangtua harus seimbang. 
Dengan
begitu, jangan pernah merahasiakan sesuatu dari si
Kakak juga si Adik tentang satu sama lainnya. 
Selama
anak-anak belum mandiri secara finansial, jangan
perlakukan mereka layaknya teman secara total, berikan
cinta dan perhatian serta perlakuan yang setara.

Senin, 20 Juli 2015

Untaian Nasihat

Untaian nasihat indah dari :
Ust DR. Syafiq R Basalamah. MA

Akhi Ukhti...

✅ Ramadan telah berlalu
Namun ternyata perjalanan masih harus dilanjutkan

✅ Moga Allah menerima amalan kita dan mengampuni dosa2 kita

✅ Aku ingin mengajakmu merenung sejenak...

✅ Pernah menyaksikan peristiwa kebakaran ???

✅ Api yg membara dan membakar tidak hanya pakaian bahkan besi2 menjadi leleh seperti lilin

✅ Bila dirimu seorang konglomerat yang memiliki cash milyaran rupiah di rumah

 ✅ perhiasan emas yang banyak

✅ perabotan rumah yang antik dan mahal

✅ Pakaian branded yang berjejer di dalam lemari
 
✅ Keluarga yang menjadi penyejuk mata 

✅ Bila suatu saat terjadi kebakaran dahsyat di rumahmu,(moga itu tidak terjadi)

✅ Kira2 apa saja yang akan kau selamatkan dari kekayaanmu, yang puluhan tahun kau kumpulkan?

✅ Atau kau hanya akan menyelamatkan dirimu dan keluargamu?

✅ Aku yakin engkau akan memilih yang kedua.......
bahkan engkau siap menjadikan semua hartamu sebagai perisai untuk menyelamatkan kulitmu dari sentuhan api

✅ Ingatlah... 
bahwa ada kebakaran yang lebih dahsyat dan pasti terjadi  telah menanti...(api neraka)
 
✅ Namun ternyata engkau lebih sibuk menyelamatkan hartamu yang pasti akan kau tinggalkan dari pada dirimu dan keluargamu...

✅ Bahkan sebagian ortu membiarkan anaknya dalam kebakaran tersebut sambil tertawa dan bersenda gurau

✅ Saatnya manusia sadar... bahwa dunia ini menipu dan melalaikan

✅ Allah jalla jalaluh berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

✅ NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM BERSABDA :

اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَـمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Al-Bukhari  Muslim )

------------###----------