Selasa, 03 Mei 2016

Dimana Allah

Menjawab Dimana Allah?

Satu-satunya jalur informasi yang paling akurat dan meyakinkan dalam menjawab pertanyaan dimana Allah ialah pemberitaan Allah sendiri dalam Al-Qur’an was Sunnah dengan bimbingan Salafusshalih.

Allah berfirman, “Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia tinggi berada di atas ‘Arsy-Nya, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid: 4)

Para Ulama menegaskan, bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah menafikan ketinggian Allah berada di atas ‘Arsy-Nya. Sebab ilmu Allah meliputi segala sesuatu sehingga Dia mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah bermakna percampuran, menyatu dengan hamba-Nya, maupun persekutuan. Akan tetapi kebersamaan Allah yang dimaksud adalah dengan ilmu-Nya. Hal ini telah disepakati oleh para shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. (Disarikan dari “Al-‘Aqidah Al-Washitiyyah” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

“Bukankah Aku telah mengatakan kepada kalian sesungguhnya Aku Mahamengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui yang kalian nampakkan dan yang kalian sembunyikan.” (Al-Baqarah: 33)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam pernah menguji seorang budak wanita, “Dimana Allah?” ia menjawab, “Di atas langit”. Beliau bertanya lagi, “Siapa saya?” ia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Beliau berkata, “Merdekakanlah budak ini karena ia seorang mu’minah.” (HR. Muslim 537)

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata, dari Abu Muthi’ Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhi penyusun kitab "Al-Fiqhul Akbar", ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Abu Hanifah tentang perkataan seseorang, “Aku tidak mengetahui dimanakah Rabbku, di langit atau di bumi?” Lantas Abu Hanifah berkata:


قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سموات


“Sungguh telah kafir orang yang berkata seperti itu, karena Allah ta’ala berfirman, “Allah tinggi berada di atas ‘Arsy-Nya”, dan ‘Arsy Allah berada di atas langit (ke tujuh).” (Al-‘Uluw hal.135)

Abdullah bin Nafi’ berkata, Malik bin Anas berkata:


الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء


“Iman adalah perkataan dan perbuatan dan Allah berbicara kepada Musa. Dan Malik juga berkata, Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya meliputi setiap tempat, tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya.” (Riwayat Abdullah bin Ahmad dalam “As-Sunnah” hal. 280 no. 532)

Al-Imam Al-Baihaqi dengan sanadnya menukil manuskrip yang dibacakan oleh Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ayyub mengenai madzhab Ahlussunnah


الرحمن على العرش استوى بلا كيف والأثار عن السلف في مثل هذا كثيرة وعلی هذه الطريق يدل مذهب الشافعي رضي الله عنه واليها ذهب احمد بن حنبل والحسين بن الفضل البجلي ومن المتاخرين ابو سليمان الخطابي


“Allah tinggi berada di atas ‘Arsy-Nya, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya. Dan atsar dari Salafusshalih tentang masalah ini sangatlah banyak. Dan di atas jalan inilah madzhab Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, madzhab Ahmad bin Hanbal, Al-Husain bin Al-Fadhl Al-Bajali serta para Ulama muta’akkhiriin semisal Abu Sulaiman Al-Khatthabi….” (Al-Asma’ was Shifat 2/308)

Maka keyakinan Allah ada dimana-mana, menyatu dengan manusia, ada di dalam hati, semua itu adalah keyakinan yang batil menyelisihi dalil Al-Qur’an was Sunnah serta ijma’ Salafusshalih. Keyakinan yang benar adalah Allah berada di atas langit ke tujuh tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Inilah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mungkin setelah ini muncul pertanyaan dibenak kita, kalau begitu Allah bertempat? Jawabannya, jika tempat yang dimaksud adalah tempat yang dibatasi oleh langit, bumi dan makhluk-Nya maka itu mustahil, karena Allah adalah Al-Khaliq (Pencipta) tidak mungkin dibatasi oleh Al-Makhluq (Ciptaan-Nya), karena Kursi Allah saja meliputi langit dan bumi. Adapun jika “tempat” yang dimaksud itu di luar ciptaan-Nya (ruang dan waktu) yakni “tempat” yang kita tidak mengetahui hakikatnya, maka itulah yang benar. Dan itulah “tempat” sebelum Allah menciptakan makhluk-Nya. Lebih lengkap baca keterangan Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffar”. 

Allah Tanpa "Arah"?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata dalam “Al-Qashidah An-Nuniyyah”:

كل الجهات بأسرها عدمية *** في حقه هو فوقها ببيان

“Setiap arah tidaklah berlaku bagi Allah *** Pada hakikatnya Dia berada di atasnya berdasarkan penjelasan.”

قد بان عنها کلها فهو المحيط *** ولا يحاط بخالق الاكوان

“Telah jelas bahwa Dia meliputi segala sesuatu *** Dan tidak ada yang dapat meliputi Allah Pencipta semesta alam.” (1/222)

Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz bin Mani’ berkata, “Arah yang enam yang membatasi makhluk tidak berlaku bagi Allah, karena Allah berada di atas ke enam arah tersebut (yakni tinggi di atas ‘Arsy-Nya).” (Hasyiyah Al-‘Aqidah At-Thahawiyyah)

Yakni “Arah” Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tidak serupa dengan apapun. Sedangkan arah makhluk terbatas oleh ruang dan waktu karena arah juga termasuk makhluk.

Maka jangan sekali-kali menyerupakan “arah”-Nya Allah dengan arah makhluk. Allah punya sifat “Ada”, makhluk juga punya sifat ada, namanya sama “ada”, namun Ada-Nya Allah tidak sama dengan ada-nya makhluk. Maka “arah” Allah di “atas” arahnya makhluk, tidak terkungkung oleh ruang dan waktu. Allah tinggi di atas ‘Arsy-Nya.

Syi’ah Rafidhah dan Asy’ariyyah menganggap Allah tanpa “arah”, dengan alasan kalau menetapkannya berarti sama saja menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Jadi menurut mereka, Allah ada dimana-mana. Itu pemahaman baathil mereka, wa billahit tawfiq.

Fikri Abul Hasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar