Senin, 14 April 2014

Wanita Muslimah Yang Mengajarkan Suaminya (2)


Fathimah Binti Al-Mundzir

Asma radhiyallahu ‘anha adalah sosok yang dikenal dalam sejarah Islam, tidak saja karena dia adalah anak dari Abu Bakar as-Siddiq radhiayallahu ‘anhu dan saudari Aisyah radhiyallahu ‘anha, akan tetapi dia juga adalah isteri yang taat dari sahabat Zubair ibn al-Awwam radhiayallahu ‘anhu. Perannya dalam membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keteladanan dalam pengorbanan dan kesabarannya akan tetap hidup dalam satu kurun sejarah Islam. Dia diberi nama Dzaatun Niataqain (wanita dengan dua ikat pinggang. Asma radhiyallahu ‘anha memiliki satu ikat pinggang yang akhirnya dirobeknya menjadi dua, dan salah satunya digunakan untuk mengikat bekal makanan dan yang satu lagi dipakai sebagai ikat pinggang.) karena peristiwa yang dialaminya dimana dia menggunakan dua ikat pinggang untuk mengikat makanan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayahnya Abu Bakar radhiayallahu ‘anhu. Keduanya telah meninggalkan Makkah dan dikejar oleh musuh-musuh (Quraisy). Adalah tugas Asma radhiyallahu ‘anha untuk membawakan makanan itu bagi mereka secara rahasia; dalam keadaan hamil tua dia memanjat gunung Tsur.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan gunung ini, cukup bagimu mengetahui bahwa bahkan orang muda akan terengah-engah mendaki jalannya yang berbatu. Apa yang
mendorong Asma radhiyallahu ‘anha, dengan kehamilannya, menempuh perjalanan yang berbahaya itu? Tidak lain karena cinta yang mendalam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayahnya. Selanjutnya ketika Abu Jahal datang ke rumah Abu Bakar radhiayallahu ‘anhu, dengan penuh dendam dan amarah bertanya kepada Asma radhiyallahu ‘anha dimana ayahnya dan Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam berada. Berdiri tegar, dengan iman yang mengalir di sekujur nadinya, dia mengatakan bahwa dia tidak mengetahuinya. Abu Jahal menampar pipinya; dan dia tetap tegar berdiri tanpa menyerah, dengan hati yang dipenuhi cinta kepada agama ini.

Kecintaannya tidak berakhir dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya dia menyalakan kecintaan yang mendalam ini ke dalam hati anak-anak dan cucu-cucunya. Salah seorang cucunya yang mengambil manfaat yang sangat besar dari kebersamaan dengannya tidak lain adalah Fatima binti al- Mundzir rahimahallah. Allah telah memilih Fatimah menjadi sebuah cahaya yang namanya bersinar – bahkan hingga hari ini, di kitab-kitab hadits. Fatimah binti al-Mudnzir rahimahallah dipandang sebagai salah satu Tabi’at yang utama di masanya. Dia adalah seorang ulama besar dan dikenal sebagai seorang Faqihah dan menikah dengan saudara sepupunya, Hisyam ibn Urwah ibn az-Zubair. Hisyam juga seorang ulama besar dan seorang perawi hadits. Beberapa diantara murid-mudirnya yang utama adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Syu’bah dan Sufyan ats-Tsauri.

Meskipun mereka berdua bersepupu, Hisyam tidak mendapatkan banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Asma radhiayallahu ‘anha seperti yang diperoleh Fatimah. Oleh karena itu dia bertanya kepada isterinya dan belajar darinya perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkannya dan kemudian menyampaikannya kepada para sahabat dan murid-muridnya, dari apa yang diajarkan isterinya. Banyak yang telah meriwayatkan dari Fatimah, seperti Ibnu Ishak (penulis buku sirah yang terkenal) dan yang lainnya. Akan tetapi Hisyam merupakan orang yang paling utama dalam meriwayatkan hadits langsung dari Fatimah rahimahalllah.

Berikut ini hanyalah beberapa contoh dalam kitab hadits utama, dimana Hisyam meriwayatkan dari Fatimah:

1. Hisyam meriwayatkan dari isterinya Fatimah, dari neneknya Asma bahwa dia berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,”Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku mempunyai anak perempuan yang akan menjadi pengantin. Ia pernah terkena penyakit campak sehingga rambutnya rontok. Bolehkan aku menyambungnya (dengan rambut lain)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah mengutuk wanita yang menyambungkan rambut seorang wanita dengan rambut lain dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya.”

Hadits ini diriwyatkan dalam:
Shahih Bukhari
Shahih Muslim
An-Nasa’i
Ibnu Majah

2. Hisyam berkata: Fatimah meriwayatkan kepadaku dari Asma bahwa dia berkata: “Kami memakan daging salah satu kuda kami di masa Nabi s.“

Hadits ini diriwayatkan dalam:
Shahih al-Bukhari
Shahih Muslim
An-Nasa’i
Ibnu Majah

3. Hisyam meriwayatkan dari Fatimah dari Asma bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku: “Berinfaklah atau memberilah dan jangan menghitung-hitung, karena Allah akan memperhitungkannya untukmu.”

Hadits ini diririwayatkan dalam:
Shahih al-Bukhari
Shahih Muslim
An-Nasa’i

4. Hisyam juga meriwayatkan hadits yang panjang darinya dalam Shahih Bukhari dan Muslim mengenai Shalat Gerhana.

Bagi sebagian ulama Islam terkemuka seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim, mencatat hadits dimana:

1. Wanita meriwayatkan hadits
2. Seorang laki-laki meriwayatkan dari isterinya

Hal ini menyimpan pelajaran besar bagi orang-orang yang mengatakan bahwa para ulama Islam hanya memperhitungkan laki-laki dan mengesampingkan wanita. Sebaliknya, kitab yang dipandang sebagai sumber ilmu Islam yang memuat hadits-haditsyang paling terpercaya, di dalam sanadnya terdapat nama-nama para wanita.

Bahkan ini cukup sebagai contoh bahwa laki-laki dapat meriwayatkan dari isterinya tanpa perlu merasa malu. Jika bukan karena Hisyam yang belajar dari Fatimah, yang belajar dari Asma radhiyallahu ‘anha, kita mungkin tidak dapat menarik manfaat dari mutiara hikmah yang indah ini, yang diambil dari lautan Kenabian (yakni hadits-hadits Nabawiyah yang diriwayatkan Fatimah dari Asma-pent.).

bersambung...
~WAHANA BELAJAR UNTUK YANG BERJIWA HANIF~

Minggu, 13 April 2014

Wanita Muslimah Yang Mengajarkan Suaminya (1)


Insya Allah Kami akan muat secara berseri tulisan Syaikhoh Bintu Sabil yang kami dapatkan dari ebook di website raudhatulmuhibbin. Karena Islam sangat memperhatikan peningkatan Ilmu untuk wanita...

Bintu Sabil:

"Saya hampir bisa merasakan keterkejutan anda ketika membaca judul “Wanita Muslimah yang Mengajari Suaminya”!?

Rasa takjub itu mungkin berasal dari keadaan yang menyedihkan yang banyak dijumpai oleh kaum Muslimin sekarang ini. Wanita Muslimah sekarang ini, tidak dapat mengajari suaminya karena:

1. Mereka tidak memiliki ilmu yang akan diajarkan kepada suaminya.

2. Sang suami tidak ingin belajar dari isterinya (Mereka berkata, “Betapa memalukannya isteriku mengajariku!”)

3. Salah satu atau keduanya terlalu sibuk untuk sekedar duduk bersama dan mempelajari agama Allah.

4. Salah satu atau keduanya tidak tertarik atau hanya sedikit sekali tertarik untuk mempelajari agama Islam.

Namun kaum Muslimin di masa lalu sangat berbeda dengan kaum Muslimin di zaman sekarang ini. Ada saat-saat dimana keduanya, suami dan isteri, duduk bersama dengan kecintaan yang samam akan ilmu mengenai agama ini. Orang-orang yang mengenal ilmu-ilmu Islam akan mengetahui bahwa para ulama terdahulu sedemikian bersemangat menempuh perjalanan selama berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan satu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagi laki-laki seperti mereka, memiliki isteri seorang ulama adalah salah satu anugerah terbesar di dunia ini dan sumber penghargaan dan penghormatan.

Betapa kejinya ketika seseorang memberi label kepada para ulama Islam sebagai laki-laki yang tidak menghargai dan membenci wanita. Sungguh sayang, seiring perputaran dunia, kebodohan menyebar; para Modernis (yang darinya bercabang kaum Feminis) mengajak pada penafsiran kembali ayat-ayat Allah, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, dengan mengatakan bahwa Islam yang
kita kenal hari ini adalah buah dari pemikiran, pendapat dan ide-ide kaum laki-laki....

Bagi mereka yang merasa malu untuk belajar dari isterinya...

Bagi mereka yang berkata bahwa wanita Muslimah tidak memiliki peran dalam menyebarkan ilmu...

Bagi mereka yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang merendahkan wanita...

Dan bagi para wanita yang berusaha untuk mengubah ajaran Islam dan mengatakan bahwa Islam hanya memusatkan perhatian kepada laki laki....

SAYA MENANTANG ANDA UNTUK TERUS MEMBACA BUKU INI..."

~WAHANA BELAJAR UNTUK YANG BERJIWA HANIF~

Sabtu, 12 April 2014

Cinta Adab Sejak Dini

CINTA ADAB SEJAK DINI

Seorang yang bijak, suatu hari ditemani salah seorang anaknya berjalan-jalan ke tempat yang sunyi. Keduanya berjalan dan akhirnya sampai di perkebunan dengan pohon-pohon yang indah, bunga-bunga yang harum, dan buah-buahannya yang ranum. Ada sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang condong karena ditiup angin. Ujungnya hampir menyentuh tanah.

Bapak bijak itu berkata kepada anaknya,”Lihatlah pohon yang miring itu. Kembalikan ia kepada keadaannya yang semula.”

Anaknya pun bangkit menuju pohon itu. Dengan mudah dia berhasil meluruskannya. Lalu keduanya berjalan lagi. Sekarang, keduanya sampai pada sebuah pohon besar, batang-batangnya banyak yang bengkok.

Bapak itu berkata kepada anaknya, “Anakku, lihatlah pohon ini... Betapa ia sangat memerlukan orang yang mau berbuat baik kepadanya untuk meluruskannya. Menghilangkan aib yang menodainya, dan menurunkan harganya di depan orang-orang yang memandangnya. Ke sanalah, lakukanlah apa yang kamu lakukan pada pohon sebelumnya”

Anaknya tersenyum terheran-heran. Dia menjawab, “Aku bukan tidak mau berbuat baik. Hanya saja pohon itu tidak mungkin diluruskan, karena usianya sudah tua. Benar, itu mungkin bisa dilakukan pada saat ia masih muda. Kalau sekarang, mana mungkin?”

Bapak bijak itu mengagumi anaknya. Dia bahagia melihat anaknya yang cerdas dan bisa menjawab dengan tepat. 

Dia berkata, “Kamu benar, anakku. Siapa yang tumbuh di atas sesuatu, maka ia menjadi tabiatnya. Beradablah sejak kecil, niscaya adab itu selalu menemanimu sampai kamu dewasa”

Kemudian keduanya pulang dan bapak bijak itu mendengarkan syair, 

“Budi pekerti itu berguna bagi bocah semasa kecilnya. Adapun pada masa kepala telah beruban, maka ialah tidak berguna.

Sesungguhnya jika kamu meluruskan ranting, maka ia bisa lurus.

Sementara kayu, tidaklah mungkin kamu bisa meluruskannya” (Dari buku Sudah Muliakah Akhlakmu?, Pustaka ElBa Surabaya yang merupakan terjemahan Makarimul Akhlak karya Syaikh Ali Shalih Hazza)

Jumat, 11 April 2014

Inspirasi Untuk Para Penuntut Ilmu

INSPIRASI UNTUK PARA PENUNTUT ILMU PLUS UMMAHAT ATAU ISTRI (2)

Ummu Ibrohim (29 th) di Yogyakarta bercerita:

"Alhamdulillah, Allah telah memberikan hidayah-Nya sejak saya masih kuliah di salah satu PTS di Yogya, tepatnya ketika memasuki tahun ketiga. Sejak itulah saya menutup aurat dengan busana muslimah dan bergaul dengan teman-teman (akhwat) yang sudah lebih dulu hijrah kepada cahaya islam. Merekalah yang sering mengajak saya untuk datang ke majelis ta’lim, ikut dalam kegiatan islam dan meminjamkan atau mengenalkan saya dengan buku-buku bacaan yang islami.

SEJAK SAAT ITU SAYA MULAU MERASAKAN ADANYA KEKURANGAN PADA DIRI SAYA, BAHKAN TERLALU BANYAK. Terutama hal-hal yang belum saya ketahui padahal itu penting karena berkaitan dengan peribadatan kepada Allah Ta’ala dan juga perbuatan-perbuatan maksiat pada Allah yang sebelumnya tak disadari bahwa sebenarnya itu membuat Allah murka, misalnya beramal tidak sesuai dengan syariat, yang dapat menyeret pelakunya dalam perbuatan syirik dan amalan sia-sia lainya yang tak dilandasi dengan ilmu dien yang shahih. Ketika itu, saya merasakan seperti baru tersadar dari tidur yang panjang.....wahai betapa bodohnya diri ini!

Mulailah saya menyibukkan diri dengan hadir di majelis ilmu, dan Alhamdulillah saya sempat belajar (setahun lebih) di salah satu pondok putri di Yogya. Di pondok itulah saya semakin menyadari akan artinya ilmu dan pentingnya menuntut ilmu.

Semenjak menikah, kurang lebih 8 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 14 Mei 1995, saya tetap berupaya untuk belajar ilmu dien, dan Alhamdulillah suami saya mendukung sepenuhnya dan ikut mendorong saya. Bagi saya sendiri keinginan Thalabul ‘ilmi ini akan terus saya usahakan, Insya Allah, walaupun nantinya disibukkan dengan anak (saya sedang menunggu kelahiran anak pertama, kurang lebih sebulan lagi, Insya Allah)

Setelah berkeluaraga seperti ini, saya amat merasakan pentingnya ilmu. BUKANKAH KITA SEBAGAI ISTRI DITUNTUT UNTUK MENJADI PENYEJUK HATI SUAMI DAN SEKALIGUS IBU BAGI ANAK-ANAK GUNA MENDIDIKNYA MENJADI ANAK SHALIH DAN SHALIHAH? Nah..... UNTUK MENJADI ISTRI IDEAL YANG SHALIHAH SEPERTI ITU TENTUNYA BUTUH ILMU DIEN YANG CUKUP agar bisa diterapkan dalam kehidupan keluarga.

Cara saya membagi waktu antara kesibukan rumah tangga dan belajar ilmu dien terbagi atas dua kondisi, yaitu:

1. Di saat suami berada di rumah. Belajar bisa saya lakukan bersama suami, tentunya dengan melihat kondisi suami dan kesediaannya. Namun sebenarnya tak bisa mengandalkan suami sepenuhnya, karena seringnya suami pulang kerumah dalam keadaan lelah dan butuh istirahat. Cara lain biasanya melalui kaset atau membaca buku. Waktunya jika pekerjaan rumah tangga sudah selesai / rapi atau pada malam hari setelah shalat Isya.

2. Dengan hadir di majelis ilmu di saat tertentu jika kondisinya memungkinkan dengan diantar oleh suami. Saya terusa berdo’a kepada Allah dan berharap agar ketika punya momongan nanti kegiatan belajar ilmu dien ini masih terus bisa saya lakukan, dengan izin Allah tentunya."

Sebab-sebab Bertambahnya Imam

SEBAB-SEBAB BERTAMBAHNYA IMAN

Orang-orang yang kita sebutkan di atas mengetahui bahwa keimanan seseorang dapat bertambah, semakin mantap dan semakin kokoh dengan amalan-amalan tertentu. Begitu pula sebaliknya, ada beberapa sifat dan amalan yang bisa mengurangi kadarnya. Mereka senantiasa mengerjakan amalan yang bisa mendongkrak iman mereka dan menjauhi sifat dan amalan yang dapat mengurangi kadarnya. Hal inilah yang mengantarkan mereka berhasil menjadi tokoh terkemuka dan orang-orang pilihan.

Allah yang Maha Suci menjadikan setiap hal yang disukai dan diinginkan mempunyai sebab dan cara untuk mendapatkannya. Perkara yang paling diinginkan dan disukai serta paling bermanfaat adalah iman. Allah menunjukkan banyak jalan untuk meraih, memperkuat atau menambah iman seseorang. Jika seorang hamba menjalaninya maka keyakinan dan keimanannya akan bertambah dan semakin kuat. Semua itu telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam kitabNya dan oleh RasulNya dalam Sunnah-sunnahnya. 

Diantara jalan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari Ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Menurut Ibnu Rajab rahimahullah, “Ilmu yang bermanfaat adalah menguasai nash-nash Al Kitab dan as Sunnah, memahami makna-maknanya. Mengambil atsar dari para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang berkaitan dengan makna-makna al Qur-an dan al Hadits, serta perkara-perkara yang berkaitan dengan halal, haram, zuhud, kelembutan hati (raqa’iq) dan berbagai pengetahuan lainnya. Bersungguh-sungguh dalam membedakan yang shahih dengan yang dhaif dan bersungguh-sungguh dalam memahami makna atsar-atsar tersebut. Ilmu yang seperti ini sudah cukup bagi orang yang berakal dan cukup menyibukkan orang yang mencari kesibukan dengan ilmu yangbermanfaat ini” Ilmu yangbermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Maka ilmu yang dapat menambah keimanan adalah ilmu yang diamalkan. 

Pintu-pintu ilmu syar’i yang dapat menambah keimanan diantaranya:

a. Membaca dan merenungkan Al Qur-an. Ini adalah pintu ilmu paling besar yang dapat menambah, memperkokoh, dan memperkuat keimanan.

b. Mengenal nama-nama dan shifat Allah. Mengenal Asmaul Husna dan Shifat shifat Allah yang terdapat dalam al Kitab dan as Sunnah serta segala hal yang dapat menunjukkan kesempurnaan Allah yang mutlak merupakan pintu ilmu yang paling besar.

c. Memperhatikan Sirah (perjalanan hidup) Nabi yang mulia shallallahu ‘alihi wa sallam. Memperhatikan sirah Nabi yaitu dengan memperhatikan sifat-sifat Nabi, akhlaknya yang mulia,dan perilakunya yang terpuji. Beliau dipercaya Allah untuk menerima wahyuNya, orang terbaik di antara makhlukNya, utusanNy bagi seluruh hambaNya, dan seorang utusan yang membawa agama dan manhaj yang lurus. Maka mempelajari Sirah Nabi merupakan pintu ilmu yang penting untuk mengupayakan bertambahnya iman kita.

d. Memperhatikan keindahan ajaran agama Islam. Seluruh ajaran agama Islam sangatlah indah. Aqidahnya paling benar, paling jujur, dan paling bermanfaat. Akhlaknya paling terpuji dan paling bagus. Amalan dan hukumnya paling baik dan paling adil.

e. Membaca Sirah Salaf (pendahulu) umat ini. Mereka adalah generasi terbaik, manusia terbaik. Mereka adalah saksi sejarah peristiwa-peristiwa besar. Mereka adalah orang-orang yang membawa agama ini kepada generasi setelah mereka. Merekalah orangyang paling kuat Imannya, paling kokoh ilmunya, paling bagus hatinya, dan paling suci jiwanya. 
 
2. Merenungkan Ayat-ayat Kauniyah

Memikirkan dan memperhatikan ayat-ayat dan makhluq ciptaan Allah yang beraneka ragam dan menakjubkan seperti langit, bumi, matahari, bulan, planet, bintang, malam, siang, gunung, pepohonan, laut, sungai, dan berbagai ciptaan Allah lainnya yang tidak terhitung jumlahnya merupakan salah satu pendorong keimanan dan salah satu sebab paling bermanfaat dalam memperkuat keimanan.

Perhatikanlah langit! Ia begitu tinggi, luas dan kokoh. Tidak ada tiang penyangga di bawahnya dan tidak ada tali menggantung di atasNya. 
Perhatikanlah bumi! Dia Subhanallah menciptakannya sebagai hamparan yang membentang. Dia menjadikan di dalamnya sumber rezeki, makanan, dan penghidupan untuk hamba-hambaNya. 

Perhatikan pula gunung! Dia menjadikannya untuk meneguhkan bumi dan menjadikannya pasak yang menjaganya agar tidak goyah!

Perhatikan pula angin yang lembut yang berhembus di antara langit dan buni yang dapat dirasakan dan diketahui keberadaannya ketika berhembus tetapi tidak terlihat bentuknya.

Perhatikanlah awan yang berarak-arak antara langit dan bumi. Awan berjalan berkelompok-kelompok kemudian tersusun dan terkumpul satu dengan lainnya, lalu gumpalan itu digiring oleh angin, inilah yang dinamakan olehNya dengan lawaqih. Selanjutnya awan itu digiring ke atas daerah yang membutuhkannya. Setelah Allah meratakan awan tersebut, Allah mencurahkan hujan. Perhatikanlah lautan! Jika bukan karena penjagaan Rabb Tabaraka Wa Ta’ala terhadapnya dengan kekuasaan, kehendak, dan penahanan dariNya, maka air laut tersebut akan meluap dan memenuhi seluruh permukaan bumi.

Perhatikan matahari dan bulan ketika terbit dan tenggelam sehingga terjadi pergantian siang dan malam! 

Perhatikan macam-macam hewan dan tumbuhan yang berbeda jenis satu sama lain! 

Dan secara khusus perhatikanlah penciptaan Allah atas dirimu sendiri wahai manusia! Darimanakah engkau diciptakan? Dari nuthfah yang berasal dari air yang hina! Kemudian Alah mengubahnya menjadi ‘alaqah kemudian menjadi mudhghah sampai Allah sempurnakan penciptaan manusia dengan sebaik-baik penciptaan!

3. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan, memperbanyak, dan menjaga amal shalih dengan ikhlas mengharap wajah Allah

Amalan-amalan dalam Islam terbagi menjadi:

a. Amalan Hati

Contoh amalan hati adalah: ikhlas, cinta, tawakkal, inabah, harap (roja), takut (khouf), khawatir, inabah, ridha, sabar dan lain-lain. Amalan hati pada hakekatnya merupakan dasar agama, pangkal segala urusan dan perkara yang paling penting. Dalam mengerjakan amalan hati manusia dibagi menjadi tiga tingkatan sebagaimana dalam hal amalan badan: ada orang yang berbuat dzalim terhadap dirinya, ada yang tengah-tengah, dan ada yang berseger
a mengerjakan berbagai kebaikan.

b. Amalan Lisan
Adapun berkaitan dengan amalan lisan, seperti dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, membaca kitabNya, membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajak kepada yang baik, melarang dari perbuatan mungkar, membaca tasbih, beristighfar, berdoa, dan amalan-amalan lisan lainnya, maka tidak diragukan lagi bahwa menegakkan, selalu menjaga, dan memperbanyak amalan-amalan tersebut termasuk sebab-sebab paling besar dalam menambah keimanan.

c. Amalan Anggota Badan
Adapun contoh amalan anggota badan seperti shalat, puasa haji, shadaqah, jihad dan ibadah lainnya. Allah Ta’ala menyebutkan delapan sifat orang beriman yang mengaitkan dengan amalan anggota badan dalam surat al Mu’minun. Delapan sifat ini masing-masing akan menghasilkan dan menumbuhkan keimanan. Kedelapan sifat ini juga termasuk sifat-sifat keimanan dan termasuk tafsir dari iman. Delapan sifat itu adalah:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ* الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ* إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ* فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ* وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ* أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ* الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ*
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat
-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Terjemahan Asbab Ziyadatil Iman, Syaikh Abdurrozzaq hafizhahullah. Diterbitkan Media Hidayah Jogja)

Ilmu Dan Amal Adalah Tujuan Dari Penciptaan

ILMU DAN AMAL ADALAH TUJUAN DARI PENCIPTAAN

Kebutuhan ilmu kepada amal perbuatan sangat jelas terlihat tatkala kedua perkara tersebut merupakan tujuan dari penciptaan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk agar mereka mengetahuiNya, dan Alloh menciptakan mereka agar mereka menyembah Alloh.

Dalil pertama yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam akhir ayat dari surat ath-Tholaq:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS ath-Tholaq: 12)

Kalimat dalam firman Alloh: kholaqo (Allah menciptakan), kemudian lita’lamu (agar kamu mengetahui), maka ILMU ITU ADALAH TUJUAN DARI PENCIPTAAN.

Dalil yang kedua: firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada akhir dari surat adz-Dzariyat:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepadaKu. (QS adz-Dzariyat: 56)

Ilmu dan ibadah, sebab keduanya penciptaan itu ada, ibadah tidak ada kecuali dengan ilmu yang bermanfaat yang dapat mendekatkan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

BARANGSIAPA YANG TELAH BERILMU KEMUDIAN BERAMAL DENGAN ILMU, MAKA DIA TELAH MENUNAIKAN MAKSUD DARI PENCIPTAAN. Berkata ahli ilmu: “Tauhid yang merupakan sebab diciptakannya kita, dan untuk kita dapat mencapainya, terdapat dua sisi: sisi yang pertama adalah ilmu dan sisi yang kedua adalah amal, tauhid dalam hal pengetahuan dan penetapan, tauhid dalam hal kehendak dan permohonan. Maka sudah menjadi keharusan dari dua perkara tadi untuk mencapai makna dari ubudiyah, agar seorang hamba menjadi hambaNya yang sejati, hamba-hamba yang taat kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala dengan sesungguhnya.
Dan barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, maka dia dimurkai, mendapatkan murka Alloh, sebab dia tidak melaksanakan maksud dari ilmu. Dan barangsiapa yang beramal dengan kesungguhan yang sangat dalam beribadah namun tanpa ilmu, maka dia telah tersesat dari jalan Alloh dan jalan yang lurus.

Dalam rangka seperti ini kita disyariatkan untuk membaca apa yang ada dalam surat al-Fatihah, yang merupakan doa yang sangat agung, merupakan salah satu dari doa-doa yang paling penting:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS al-Fatihah: 6-7)

Orang-orang yang diberi nikmat di sini adalah mereka yang berilmu dan diamalkan, dan orang-orang yang dimurkai adalah ahli ilmu tanpa amal, dan orang-orang yang tersesat adalah ahli amal tanpa ilmu. Berkata Sufyan bin Uyainah rohimahulloh: ”Di antara golongan kita yang rusak dari kalangan ulama/ahli ilmu maka dia seperti Yahudi, dan di antara golongan kita yang rusak dari kalangan ahli ibadah maka dia seperti Nashoro (Nasrani), sebagaimana firman Alloh:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurot, kemudian mereka tiada mengamalkanya adalah seperti keledai. (QS al-Jum’ah: 5)

Firman Alloh لَمْ يَحْمِلُوهَا bermakna tidak melaksanakan ilmu tersebut, mereka hapal dan memahami hal-hal yang menunjukkan ilmu tersebut, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Dan orang yang jelek dari golongan ahli ibadah seperti golongan Nashoro, karena Nashoro merupakan pelaku hal-hal baru dalam agama mereka, melakukan ibadah-ibadah yang belum pernah Alloh Subhanahu wa Ta’ala turunkan, tidak pernah disyariatkan dan tidak diizinkan dalam peribadahan kepada Alloh.

(Disadur dari kitab Prof. Dr Syaikh Abdurrozzaq al-Badr (hafidhohulloh) dengan judul Tsamrotu al-’Ilmi wa al-’Amal oleh Ustadz Maryono, S.Th.I, dari Majalah Adz Dzakhiirah)

Karena Keimanan Itu Sangat Berharga

KARENA KEIMANAN ITU SANGAT BERHARGA

Perkataan-perkataan generasi salafus shaleh kepada sesama mereka untuk menambah keimanan:

1. Umar ibnu Al Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para shahabatnya:
 
هَلُمُّوْا نَزْدَدْ إِيْمَاناً
“Mari kita menambah keimanan”

2. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
اِجْلِسُوْا بِنَا نَزْدَدْ إِيْمَانًا
 
“Duduklah bersamaku agar kita dapat menambah keimanan”
Dalam do’anya beliau radhiyallahu ‘anhu biasa mengucapkan: 
اَللَّهُمُّ زِدْنِيْ إِيْمَاناً وَيَقِيْنًا وَفِقْهًا
“Ya Allah tambahkan kepadaku keimanan, keyakinan dan pemahaman”

3. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata:
 
اِجْلِسُوْا بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً
 
“Duduklah bersamaku kita beriman sesaat”

4. Abu Ad Darda radhiyallahu ‘anhu berkata:
مِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَمُزْدَادٌ هُوَ أَوْ مُنْتَقِصٌ ـ أي من الإيمان ـ وَإِنَّ مِنْ فِقْهِ الْعِبْدِ أَنْ يَعْلمَ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ أَنِّى تَأتِيْهِ
“Salah satu tanda kefakihan seorang hamba adalah dia mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang dan tanda kefakihan yang lain adalah dia mengtahui bagaimana godaan-godaan setan datang kepadanya.”
 
5. Abdurrahman bin ‘Amr al Auza’i rahimahullah ditanya tentang keimanan, apakah ia bisa bertambah? Dia menjawab:
نَعَمْ حَتَّى يَكُوْنُ كَا لْجِبَالِ
“Ya sampai seperti gunung”
Ia juga ditanya apakah iman juga bisa berkurang? Dia menjawab,
نَعَمْ حَتَّى لاَ يبْقَى مِنْهُ شيْ ءٌ
“Ya sampai tidak tersisa sedikitpun.”

6. Imam Ahlussunnah, Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah ia bisa bertambah dan bekurang? Beliau menjawab, “Ia bisa bertambah bahkan sampai mencapai ke tujuh langit yang paling tinggi dan ia bisa berkurang sampai mencapai tujuh bumi yang paling rendah.” Beliau rahimahullah juga berkata, “Iman itu mencakup ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Jika kamu mengerjakan perbuatan baik, maka iman itu akan bertambah, tetapi jika kamu lalai, maka iman itu akan berkuranng.”

Perkataan para salafus shaleh tentang masalah iman sangat banyak sekali dan jika kita mengamati dan membaca sejarah mereka maka kita akan mengetahui betapa besar perhatian mereka terhadap masalah keimanan ini. (Asbab Ziyadatil Iman, Syaikh Abdurrozzaq, edisi terjemahan Manejemen Iman, Media Hidayah)