Kamis, 13 Maret 2014

Dunia Di Tanganku Akherat Di Hatiku

JANGAN LETAKKAN DUNIA DI DADA
(DUNIA DI TANGANKU AKHERAT DI HATIKU)

Salah satu kiat meraih kebahagiaan adalah tidak meletakkan dunia di dada. Demikian pemaparan Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan dalam buku yang beliau-beliau hafizhahumallah susun bertajuk Meraih Kebahagiaan tanpa Batas. Buku ini pernah dibedah pada Daurah Keluarga Sakinah di Yayasan Al Hanif Cilegon dengan narasumber Ustadz Abu Ihsan. Adapun Ustadzah Ummu Ihsan membedah buku tulisan beliau beserta suaminya yakni Surat Terbuka Untuk Para Istri. Berikut ini kutipan Meraih Kebahagiaan tanpa Batas hal 89-90 dengan harapan dapat menyemangati kita untuk meraih kebahagiaan hakiki dengan cara memprioritaskan mencari ilmu syar’i sekaligus juga sebagai timbangan bagi kita dan keluarga dalam menentukan skala prioritas tarbiyah/pendidikan. Semoga kebahagiaan hakiki senantiasa menyertai kita. Amin.
Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan hafizhumallah menjelaskan:

“Dan bukankah Allah telah menyeru kita untuk mendahulukan kepentingan akherat dan menyuruh kita untuk mengejar surga dengan dunia yang telah Dia berikan kepada kita? Tanpa melupakan bagian kita di dunia.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)

Jadikanlah akherat sebagai prioritas utama, tanpa melupakan bagianmu di dunia. Menjadikan akherat sebagai kebutuhan primer dan dunia kebutuhan sekunder. Tetapi kenyataannya masih banyak manusia yang memutarbalikkan ayat ini. Mereka menjadikan dunia sebagai kebutuhan primer sementara akherat hanya sebagai kebutuhan sekunder.

Misalnya dalam menuntut ilmu. Sebagian orang lebih mengutamakan mengejar ilmu dunia daripada ilmu akherat. Ilmu agama hanyalah sebagai kebutuhan sampingan saja baginya. Barangkali tanpa sadar dan tanpa terasa kita telah menghabiskan seperempat abad dari usia kita untuk menuntut ilmu dunia, mulai dari taman kanak kanak sampai S3. Entah berapa sudah biaya yang kita keluarkan untuk itu. Namun kita sangat berat meluangkan waktu menuntut ilmu akherat. Jangankan seperempat abad, seperempat jam saja kita keberatan duduk di majelis ilmu! Kita merasa keberatan mengeluarkan uang untuk membeli buku-buku agama. ADILKAH ITU WAHAI SAUDARAKU! (benarkah slogan ‘fifty-fifty’ dalam mencari ilmu dunia dan akherat itu teraplikasikan oleh orang yang mengatakannya jika pada kenyataannya dia adalah orang yang paling jarang hadir di majelis ilmu dengan beribu bahkan berjuta udzur? –red) 

Apa sebenarnya yang mendominasi hatimu?

بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”

Jawabannya ada pada dirimu sendiri!

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al A’la: 16-17)”

Masjid Makmur Negara Subur Insya Allah

MASJID MAKMUR NEGARA SUBUR INSYA ALAH

Berikut ini kutipan ceramah Syaikh Ali Al Halaby hafizhahullah. Judul di atas dari kami.

Momen peresmian masjid hendaknya mengingatkan kita tentang sebuah peristiwa penting, yaitu peristiwa hijrah Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke Madinah. Hal pertama yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam lakukan adalah membangun masjid. Pembangunan masjid adalah pondasi bagi sebuah perbaikan ummat manusia. Dengan adanya masjid, hati-hati manusia, amal-amal, aqidah-aqidah, ucapan-ucapan serta keluarga dan masyarakat dapat diperbaiki. Semua hal tersebut dapat diperbaiki dengan adanya Masjid. Sungguh misi Masjid sangat komprehensif dan misi masjid bukanlah seperti yang kita lihat sekarang ini, dimana masjid digunakan untuk menunaikan sholat lima waktu berjamaah saja.

Memang betul sholat jamaah adalah perkara penting dalam syariat. Namun menggunakan masjid hanya sebagai tempat sholat lima waktu saja merupakan upaya pendangkalan fungsi masjid. Oleh karena itu hendaknya misi masjid digunakan untuk hal-hal penting lainnya selain tempat sholat lima waktu dalam sehari-semalam.
Masjid merupakan tempat yang paling dicintai oleh allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itulah di dalam masjid dilakukan berbagai macam amal sholeh terutama sholat lima waktu dalam sehari semalam. Di masjid kaum muslimin satu sama lain saling kasih sayang, saling memperhatikan kondisi saudaranya, saling menyambung silaturrahim, saling bekerjasama dalam perkara dunia dan akherat. Hal-hal tersebut adalah fungsi masjid disamping fungsi-fungsi lainnya.

Dan diantara misi masjid adalah dipelajarinya ilmu-ilmu agama yang bersumber dari kitabullah dan sunnah NabiNya. Di masjid pula kaum muslimin dapat memperbaiki aqidah mereka. Perbaikan aqidah merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim yang senantiasa harus diusahakan. Oleh karena itu satu hal yang harus dilakukan oleh kaum muslimin adalah mengajarkan agama Islam ini dengan cara yang baik dan membimbing masyarakat agar mereka berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah NabiNya.

Naam...saudara-saudarku kaum muslimin... bahwa aqidah adalah hal pokok. Aqidah merupakan kehidupan itu sendiri. Aqidah merupakan unsur utama dalam pembentukan sosok kepribadian seorang muslim. Apabila aqidah seseorang itu baik maka dia akan berjalan di atas kebaikan dan akan berpegang teguh kepada manhaj yang haq. Dan sebaliknya apabila aqidah itu rusak maka rusak pula segala urusan seseorang yang kita tidak tahu sampai kapan kerusakan itu berakhir, hanya Allah yang tahu.

Ini adalah misi masjid yang kami inginkan. Masjid yang di dalamnya diajarkan ilmu-ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Masjid yang menghubungkan jamaahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Masjid yang di dalamnya diajarkan Aqidah Shohihah, bagaimana mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, jauh dari kesyirikan, bid’ah dan penyelewengan syariat yang lain, baik sedikit maupun banyak. Seorang mu’min apabila dia masuk masjid dan melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia harus yakin dan sadar bahwa dia adalah hamba Allah dan bukan hamba selain Allah meskipun dia seorang Nabi. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya bertugas menyampaikan wahyu yang diterima dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi bukanlah perantara antara manusia dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam beribadah, kecuali hanya perantara ilmu. Beliau hanya mengajarkan dan menyampaikan. Nabi bukanlah perantara dalam doa, perlindungan dan yang lainnya.
Oleh karena itu kami menginginkan sebuah masjid sebagai menara (pusat) yang bisa mengajarkan dan menyebarkan aqidah shohihah, dan mengajarkan untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan cara yang benar. Kami menginginkan masjid sebagai sumber ilmu, sumber keteladanan, sumber kemuliaan akhlak, kebaikan adab dan sebagai sumber pembinaan agar masyarakat sadar bahwa Masjid adalah sumber Ilmu yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

disadur secara ringkas dari: http://www.kajian.net/kajian-

Bila Anak Wajib Menuntut Ilmu

BILA ANAK WAJIB MENUNTUT ILMU
Oleh Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufran, Lc

Anak wajib menuntut ilmu bila dia sudah mampu berbicara, sekalipun belum lancar dan sebelum sempurna akalnya dan belum baligh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Ibnu Majah 1/269, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihut Targhib 1/17).

Hadits ini menunjukkan umum, semua kaum muslimin wajib menuntut ilmu, yang belum baligh atau yang sudah, walaupun kewajibannya berbeda. Seperti halnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah orang tua agar menyuruh anaknya shalat ketika berumur tujuh tahun, bahkan disuruh mencambuknya bila berumur sepuluh tahun jika ia enggan shalat.

Siapakah yang wajib mengajari mereka? Anak yang masih kecil tentu pendidiknya adalah orang tuanya, atau yang mewakilinnya seperti pengasuh dan yang lainnya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika beliau masih kecil sering tinggal dirumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan beliau :

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“ Ya Allah, berilah dia pemahaman agama dan berilah dia ilmu tentang fasir. “( HR. Ahmad, dishahihakn oleh Al-Albani).

Riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ اْلكِتَابَ

“ Ya Allah, berilah dia ilmu Al-Qur’an, “ ( HR. Al-Bukhari 1/145).

Doa beliau kepada keponakannya yang masih kecil memberi isyarat bahwa anak kecil wajib menuntut ilmu. Dan untuk meraih ilmu tidak cukup hanya dengan berdoa, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi ilmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran belajar (yakni ilmu itu didapatkan dengan belajar/ ngaji –red). Bahkan ayat yang pertama kali turun adalah surat tentang wajibnya menuntut ilmu, yaitu surat Al-‘Alaq.

Bukti lain wajibnya anak kecil diajari agama, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ilmu tauhid, padahal Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu masih kecil. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah, beliau bersabda, ‘Wahai bocah, aku akan mengajarkan kepadamu bebarapa kalimat; peliharalah (hak) Allah niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya berada di hadapanmu (melindungimu). Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jika umat ini bersatu untuk memberi suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberi manfaat apapun kepadamu, selain apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Seandainya mereka juga bersatu untuk mendatangkan madharat kepadamu dengan suatu madharat, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan madharat kepadamu dengan sesuatu pun selain apa yang telah Allah tetapkan atas dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran kertas telah kering. “(Shahih HR. At-Tirmidzi, Al-Misykah) 5302 dan Zhilal al-Jannah: 316-318)

Anak Kita Belajar Ilmu Apa ?

Jika kita kembali kepada penggunaan kalimat ilmu di dalam Al-Qur’an, hadits yang shahih atau keterangan ulama, maka ilmu adalah Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Adapun urusan dunia, Rasulullah tidak menyebutnya ilmu tetapi menyebutnya perkara, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamulah (shabat) yang lebih tahu dalam urusan keduniamu.” (HR. Muslim).

Tidak seperti keadaan umat Islam zaman sekarang. Pada umumnya anak kecil diajari menyanyi, bahasa Inggris dan ilmu duniawi lainnya, namun lupa dengan Al-Qur’an. Seandainya hal ini benar, tentu Imam Syafi’i tidak menghafal Al-Qur’an ketika berumur 7 tahun.

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Saya mendengar asy-Syafi’i berkata, ‘Aku telah hafal Al-Qur’an sedangkan saya masih berumur 7 tahun, dan saya menghafal kitab al-Muwatha’ Imam Malik berumur 10 tahun.” (Mukhtashar al Muammal 1/28)

Sufyan Ibnu Uyainah apabila ada orang yang bertanya kepada beliau tentang masalah tafsir Al-Qur’an, beliau menyuruh penanya supaya bertanya kepada Asy-Syafi’i, dan beliau berkata, “Tanya anak kecil itu (maksudnya asy-Syafi’i). (Mukhtashar al Muammal 1/28)

Sungguh amat indah hidup pendahulu kita lantaran ilmu akhirat yang mereka pelajari, sehingga mereka mendapat petunjuk. Mereka bahagia dengan orang tua dan masyarakatnya, tetapi kita sekarang hidup di zaman fitnah; dunia yang disembah, akhirat ditinggalkan, kebodohan merajalela, sehingga tenggelamlah ilmu agama. Ini pertanda dekatnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ اْلعِلْمُ وَيَظْهَرَ اْلجَهْلُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُوْنَ لِخَمْسِيْنَ امْرَأَةً اْلقَيِّمُ اْلوَاحِدُ

“Sesungguhnya diantara tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan merebaknya kebodohan, perzinaan secara terang-terangan, jumlah perempuan yang lebih banyak dan sedikitnya laki-laki, sampai-sampai (perbandingannya) 50 perempuan sama dengan seorang laki-laki. “ (HR. Al-Bukhari : 79).

Keterangan ini mengingatkan kita agar kita mendahulukan pengajaran anak kita dengan ilmu Al-Qur’an dan Hadits yang shahih. Mengajari anak kita bagaimana beribadah dan hidup menurut sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sikap As Salaf Dalam Menyikapi Al Quran

BEBERAPA PERTANYAAN SEPUTAR SIKAP AS SALAF DALAM MENYIKAPI AL QUR’AN

Apakah Salafush Sholeh meninggalkan menghafal Qur-an?

Jawabannya: mereka tidak meninggalkan menghafal Qur-an.

Apakah Salafush Sholeh menghafalnya tanpa mentadabburinya dan mengamalkannya?

Jawabannya: mereka menghafal, mentadabburi, dan mengamalkan al Qur-an.

Manusia dalam menghafal al Qur-an terbagi menjadi beberapa kelompok
1. Tidak menghafal.

2. Menghafal tanpa mentadabburi dan mengamalkan.

3. Yang bersikap pertengahan: menghafal dengan tadabbur dan mengamalkan.

Golongan ketiga inilah jalannya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, semoga kita digolongkan ke dalam golongan ini.

Kaum Salaf setiap harinya menghafal Qur-an dibarengi dengan tadabbur ma’na yang terkandung dalam ayat-ayat yang mereka hafal. Setelah itu mereka juga mengamalkannya. Jadi ada tiga kebiasaan as Salaf dalam hal Qur-an: menghafal, mentadabburi dan mengamalkan.

Maka barangsiapa yang ingin mengikuti jalan as salaf dalam menyikapi al Qur-an, hafalkanlah al Qur-an setiap hari kemudian mentadabburinya dengan membuka tafsir ringkas seperti Tafsir as Sa’di dan semisalnya, dalam rangka mentadabburinya, kemudian memohon pertolongan kepada Allah untuk mengamalkannya.

Firman Allah:
يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
"Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". (Al Furqan:30)
Maksud dari ditinggalkan adalah: Tidak dihafal, tidak ditabburi, tidak diamalkan.
Bagaimana dikatakan kita berada di atas jalan Salaf namun tidak menghafal, mentadabburi dan mengamalkan. Jika demikian maka pengakuannya adalah palsu.

اللهم لا تجعل هذا القرآن مهجوراً

(Faidah dari ceramah Syaikh Haitsam di Masjid Al Barkah Cileungsi yang diterjemahkan Ustadz Badru Salam)

~DA'WAH AL HANIF~

Membuka Lembaran Sejarah Wanita Salafiyyah

KATEGORI PENDIDIKAN WANITA

MEMBUKA LEMBARAN SEJARAH WANITA SALAFIYYAH 

Lihatlah putri dari Sa’id ibn Musayyib. Ketika suaminya –yang merupakan salah satu muridnya –masuk menemuinya di pagi hari kemudian mengambil imamahnya untuk bersiap-siap pergi. Putrinya Sai’id bertanya, “Mau ke mana?” 

Suaminya menjawab, “Hendak ke majelisnya Sa’id untuk belajar ilmu”

Maka putrinya Sa’id berkata, “Duduklah, aku akan mengajarkanmu ilmunya Sa’id .”

Kita bisa ambil kesimpulan bahwasanya tidak mungkin Sa’id Ibnul Musayyib membiarkan putrinya tanpa pendidikan. Dari kisah ini kita ketahui bahwasanya Sa’id ibn al Musayyib telah mentransfer ilmunya atau minimal sebagian ilmunya kepada putrinya.

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa wanita itu tidak perlu diberi ilmu tinggi-tinggi. Sebagian suami khawatir jika istrinya lebih berilmu daripada dirinya. Ada juga sebagian pemuda minder jika ingin mengkhithbah wanita yang lebih berilmu daripada dirinya. Sebenarnya kita tidak boleh berpandangan seperti itu. Intinya bahwasanya istri itu harus di bawah pengaturan suami. Jika si istri lebih banyak ilmunya apa salahnya? Seperti kisah putrinya Sa’id ibn Musayib ini. Dari kisah ini kita mengambil faidah bahwa para salaf sangat memperhatikan pendidikan putrid-putri mereka. Mereka tidak segan-segan mentransfer ilmu yang tinggi. Ilmu yang mereka transfer adalah ilmu berkualitas dan tingkat pemahaman yang tinggi dan bukan ala kadarnya.

Kadang-kadang, karena para wanita tidak terbiasa dengan suasana menuntut ilmu maka yang ada adalah rebut (ngobrol) di mejelis ilmu seperti yang terjadi di belakang. (Yakni para akhowat yang sedang menghadiri kajian beliau yang berposisi di belakang-admin). Kemungkinan hal itu terjadi karena wanita tidak biasa tertuntut untuk belajar serius, kemudian idak terbiasa tertuntut untuk memiliki tingkatan ilmu yang lebih tinggi, menambah ilmu sehingga lebih paham dalam beragama. Jadi mohon perhatikan hal ini saudara-saudara sekalian.

Kisah lainnya adalah putri dari Imam Malik, Imam Darul Hijroh pengarang kitab hadits Al Muwathha. Metode majelis hadits dahulu adalah murid-murid membacakan kitab kemudian guru mendengarkan, jika murid keliru dalam membaca maka guru membetulkannya. Metode seperti ini disebut qiro’ah ala syaikh. Ketika dibacakan kitab Muwaththa oleh murid sang Imam dan terdengar ada kekeliruan baik penambahan atau pengurangan, maka putri Imam Malik mengetuk pintu. Kemudian Imam Malik langsung memerintahkan murid yang sedang membacakan hadits tersebut untuk mengulangi bacaannya karena bacaannya salah. Dari kisah ini kita mengetahui bahwa putri Imam Malik mengetahui kesalahan baca dari murid ayahnya. Selain itu kita dapat mengetahui bahwa putri Imam Malik menguasai kitab hadits ayahnya sebagaimana Imam Asy Syafi’i rahimahullah menghafal kitab hadits Al Muwaththa karya Imam Malik. Dan putri Imam Malik ini lebih tinggi keilmuannya daripada murid Imam Malik yang membaca tadi. 

Jika putri Imam Malik tidak diberikan ilmu yang tinggi atau tidak ditransfer ilmunya oleh ayahnya, dan tidak dibiasakan belajar tidak mungkin dapat seperti itu. Sekali lagi, ini bukti bahwa Salafus Shalih memperhatikan pendidikan putri-putri mereka bahkan melibatkan mereka dalam riwayat-riwayat hadits. Sehingga dikenal oleh umat bahwa sebagian perawi hadits adalah wanita, wanita menyampaikan ilmu, sebagian wanita salafiyah dahulu menyampaikan ilmu kepada kaum laki-laki. Inilah contoh bagaimana kaum salaf terdahulu mentarbiyah kaum wanita sehingga jadilah para wanita tersebut ‘alimah, faqihah, hafidzhoh, qori’ah. Ibnu Rajab al Hanbali menjelaskan kisah bagaimana dahulu para wanita salafiyah serius dan semangat dalam menuntut ilmu. 

Di sini kita akan menyimak kisah seorang alim bernama Abu Bakar al Kasyani. Para ulama mencantumkan dalam biografi Abu Bakar al Kasyani kisah penuh ibroh yang menunjukkan kelebihan sebagian kaum wanita di dalam ilmu. Diceritakan bahwa diantara yang belajar kepada Abu Bakar al Kasyani ini adalah Abu Bakar al Samarqondi dan dia membacakan sebagian besar dari karangan-karangannya kepada Abu Bakar al Kasyani. Kemudian Abu Bakar Al Kasyani ini menikahkan putrinya yang bernama Fathimah yang dikenal sebagai Alimah dan Faqihah. Fathimah ini selain cantik beliau juga menghafal kitab-kitab ayahnya. Putrinya ini banyak yang melamar dari negeri Romawi namun putrinya menolak semua lamaran tersebut. Dan Abu Bakar as Samarqondi datang untuk mulazamah dengan ayahnya kemudian ayahnya menikahkannya dengan As Samarqondi.

Kemudian kita akan membahas keluarganya Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah. Siapakah Ibnu hajar Al Asqolani? Dialah Khothimatu Umaro fi Muhaddtsin penutup pemimpin ahli hadits. Beliau penulis Kitab Fathul Bari yang sebagian ulama mengatakan bahwa sebenarnya Fathul Bari itu adalah syarh kutubus sittah bukan hanya syarah Shahih Bukhari, bahkan ulama mengatakan laa hijrah ba’da al fath. Tidak ada hijrah setelah fath, maksudnya tidak perlu pindah ke kitab lain karena dalam Fathul Bari sudah lengkap dan dianggap sebagai syarh kutubus sittah.

Sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran bukan saja dari kitabnya namun juga dari keluarganya. Dikatakan bahwasanya beliau rahimahullah punya semangat untuk mengajarkan ilmu hadits nabawi kepada istrinya, putri putrinya dan saudara perempuannya. Oleh karena itu muncullah dari keluarga beliau alimah yang menguasai ilmu hadits.

Berikut ini salah satu kisah saudara perempuannya yang bernama Sittur Robi Al Asqolaniyah. Dikatakan dalam biografinya bahwa beliau adalah Qoriah dan penulis dan kepintarannya sangat menakjubkan. Beliau dipuji oleh ulama dan Ibnu Hajar al Asqolani mengatakan bahwasanya dia adalah ibuku disamping ibu kandungku. Kemudian dalam biografinya disebutkan guru-guru beliau. Ini menunjukkan bahwa beliau belajar di banyak tempat. Selain itu disebutkan juga ijazah riwayat beliau dari Makkah, Damaskus, Baghdad, dan Mesir. Jika diasumsikan dengan zaman sekarang, maka beliau ini lulusan sekolah di berbagai tempat. Sittu Robbi ini disebutkan banyak menelaah atau meneliti buku buku dan menguasai khoth. Dan beliau sangat menguasai ilmu yang beliau miliki. Selain itu beliau memiliki karya yang banyak.

Kemudian istri Ibnu Hajar Al Asqolani bernama Unts. Dikatakan bahwa Ibn Hajar Al Asqolani adalah seseorang yang sangat perhatian dalam menyebarkan ilmu di tengah-tengah keluarga beliau sebagaimana semangat beliau menyebarkan ilmu di tengah-tengah manusia. Dan yang mendapatkan kesempatan belajar kepada Ibnu Hajar al Asqolani adalah istrinya. Ibnu Hajar Al Asqolani memperdengarkan hadits musalsal kepada istrinya yang didapatkan dari guru beliau Abdurrahim al Iraqin dan juga riwayat-riwayat Ibnul Kuwait . Ibn Hajar mengajarkan ilmu riwayat dan memberikan ijazah riwayat kepada istrinya. karena banyaknya ilmu yang diberikan kepada istrinya, Ibn Hajr mencandai istrinya dengan perkataan, “Anda sekarang sudah menjadi Syaikhoh” Ibn Hajar memberikan penghormatan kepada istrinya bukan saja karena dia seorang istri namun menghormatinya sebagai alimah sebagaimana dia juga menghormati suaminya bukan hanya sebagai seorang suami namun menghormatinya sebagai seorang syaikh (guru). Sungguh luar biasa. Bahkan istrinya ini menyampaikan riwayat di majelis suaminya. Jika al Hafidz Ibn Hajar al Asqolani tidak mendidik istrinya atau membekali istrinya dengan ilmu tidak mungkin Ibn Hajar akan membiarkan istrinya menyampaikan riwayat. Bahkan beberapa ulama membacakan riwayat di hadapan dirinya dan beliau tetap menghormati murid-muridnya dari kalangan kaum pria. Sedemikian terkenalnya kelimuan beliau membantu al Allamah Ibrohim ibn Khudr al Utsmani. Dan al Allamah ini membacakan shohih Bukhari di hadapan istri Ibn Hajar al Asqolani. Selain itu istri dari Ibnu Hajar Al Asqolani ini banyak membantu suaminya dalam menyelasaikan karya-karya besarnya.

Sekarang kita buka kisah putrinya Ibn Hajar al Asqolani yang bernama Zain Khotun. Ibn Hajar memperhatikan putri-putrinya yaitu mengajarkan ilmu qiroah dan ilmu kitab. Demikian pula putri beliau yang bernama Farhah yang unggul dalam ilmu riwayat hadits dan beberapa ulama datang kepadanya untuk membacakan hadits kepada beliau. Selain itu putri beliau lainnya yaitu Fathimah dan Aliyah. Puttri beliau yang lain adalah Robiah yang berguru ke Makkah, Syam dan Mesir. Demikianlah gambaran Ibnu Hajar Al Asqolani di dalam mendidik putri-putrinya. Yang hal tersebut memberikan kita pelajaran bahwa wanita pun berhak mendapatkan ilmu yang tinggi. Sehingga mereka pun bermanfaat bukan saja untuk kaum wanita tapi juga untuk kaum pria. Oleh karena itu janganlah kita memiliki pandangan yang sempit bahkan cenderung menzhalimi wanita. Dan hendaklah kau wanitra memiliki motivasi yang tinggi dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan potensi tinggi kepada wanita sebagaimana hal itu ditanamkan kepada kaum pria. 
Jika ada pria dapat menghafal al Qur’an maka wanita pun bisa melakukannya. Dan hal ini bukan termasuk tasayabbuh dengan kaum pria. Hendaklah jangan salah paham. Kemajuan kaum wanita adalah kemajuan bagi umat Islam. Jika muslimah-muslimah menjadi muslimah yang berkualitas dalam ilmu dan amal tentu saja ini pertanda baik bagi generasi mendatang sebab di tangan merekalah generasi penerus itu dibentuk. Yang demikian karena ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya dan pemimpin dalam rumahnya. Lalu bagaimana jika pemimpin ini lemah ilmu? Tentunya tidak bisa diharapkan untuk mencetak generasi yang bisa diandalkan. Maka pentingnya peran ibu dalam tarbiyah adalah sangat penting sekali.
Begitulah keadaan wanita-wanita salaf kita. Hendaklah kita bercermin dari kehidupan para salaf kita dalam tarbiyah wanita. 

(Ditranskrip dari ceramah Ustadz Abu Ihsan al Atsary, M.A)

Menolongnya Saat Ia Berbuat Zhalim Maupun Saat Ia Terzhalimi

TIPS BERTEMAN:MENOLONGNYA SAAT IA BERBUAT ZHALIM MAUPUN SAAT IA TERZHALIMI

Persahabatan sejati digambarkan oleh seorang penyair dengan kata-kata:

صَدِ يقُكَ مَنْ صَدَقَكَ لاَ مَنْ صَدَّ قَكَ

“Teman sejati (shodiq) adalah yang jujur kepadamu dan bukan teman yang selalu membenarkanmu”

Sebagian lagi mengatakan:

صديقي من صادقني لا من صدقني وعليك بمن ينظر الإفلاس والإبلاس وإياك من يقول لا باس لا باس.

Teman baikku adalah orang yang jujur kepadaku, bukan orang yang suka membenarkanku. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan akan kerugian-kerugian. Dan hati-hatilah terhadap orang yang suka mengatakan: Tidak mengapa… Tidak mengapa…

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Al Maaidah:2)

Ini adalah perintah yang sangat agung. Hendaknya orang-orang mu’min saling tolong menolong dalam kebajikan dan jangan tolong menolong dalam berbuat maksiat dan dosa. Menolong saudaranya melakukan kebajikan, ketakwaan dan ketakwaan kepada Allah, bukan sebaliknya.

Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًاً أَوْ مَظْلُوْمًاً، فَقَالَ: رَجُلٌ يا رَسُوْلَ الله أَنْصُرُهُ إِذَ كَانَ مَظْلُوْماً، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِماً كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟! قَالَ: تحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِن الظُّلْمِ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudaramu yang zhalim dan yang terzhalimi.” Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya apabila ia terzhalimi, lalu bagaimana aku menolongnya ketika ia sedang berbuat zhalim?” Beliau menjawab, “Hendaklah kamu mencegahnya dari perbuatan zhalim. Itulah cara menolongnya.” (HR Bukhari 6952)

Maka ketika saudara kita dalam keadaan terzhalimi, kita wajib menolong dan membelanya hingga ia kembali memperoleh haknya. Tidak boleh kita bersikap acuh dan membiarkannya begitu saja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَ لَا يَخْذُلُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya, janganlah ia menzhaliminya dan jangan pula ia mengacuhkannya.” (HR Muslim 6706)

Sedangkan ketika kita mendapatinya berbuat zhalim, maka kita wajib menolongnya dengan cara mencegahnya dari perbuatan zhalim serta mengembalikan kepada kebenaran dan hidayah.

Janganlah meninggalkannya jika ia terpeleset dalam perbuatan dosa dan maksiat, tapi luruskanlah dia, dorong dan berilah motivasi agar ia mau bertaubat dan teruslah berusaha untuk membimbingnya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu telah memberitakan kepada kita:

“Dibawakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang pemabuk, lalu beliau perintahkan supaya dipukul. Di antara kami ada yang memukul dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya dan ada pula yang memukul dengan pakaiannya. Setelah selesai hukuman iapun pergi. Lalu ada seorang lelaki yang berkata kepadanya, “Semoga Allah menghinakanmu!” Maka Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi penolong setan untuk membinasakan saudaramu.” (HR Bukhari 6781)

Ibnu hajar berkata, “Bentuk bantuannya kepada setan adalah setan ingin agar saudaranya itu mendapat kehinaan dengan maksiat yang digambarkan indah oleh setan kepadanya. Dan apabila ia caci maki saudaranya itu berarti telah tercapailah apa yang diinginkan oleh setan. Dalam riwayat Abu Daud dari jalur Ibnu Wahab dari Haiwah bin Syuraih, Yahya bin Ayyub dan Ibnu Lahi’ah ketiganya dari Yazid bin al Haad terdapat tambahan di bagian akhir,

“Akan tetapi ucapkanlah, “Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, rahmatilah ia.” (Fathul Bari 19/187)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu melihat saudaramu tergelincir dalam dosa, maka luruskanlah, dan bimbinglah ia, berdoalah semoga Allah menerima taubatnya, dan janganlah kamu menjadi penolong setan atas saudaramu tersebut.”

Terkadang tanpa sadar kita telah membantu setan dalam menjauhkan sahabat kita tersebut dari kebaikan. Sebagai contoh, kita mencemooh, menyindir atau mencibirnya saat ia mengalami futur (kelesuan iman) dan mulai jarang menghadiri majelis ilmu. Akibatnya ia semakin menjauh dan sama sekali terputus dari majelis ilmu bahkan putus sama sekali dengan sahabat-sahabatnya. Karena ia merasa telah dikucilkan dan disingkirkan. Wahai saudaraku bukan begitu caranya memberi nasehat!
(Dari “Indahnya Mencintai Karena Allah” karya Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan dengan sedikit tambahan)

Wanita Pun Harus Unggul Dalam Ilmu Syariat

WANITA PUN HARUS UNGGUL DALAM ILMU SYARIAT

Sebuah kekeliruan atau bahkan boleh dikatakan kezhaliman terhadap wanita apabila tidak ditunaikannya hak mereka untuk meningkatkan keilmuan al Qur-an dan as Sunnah menurut pemahaman salaful ummah. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi ‘madrasah’ bahkan madrasah pertama bagi umat jika tingkat keilmuan mereka tidak ditingkatkan oleh para orang tua. 
Yang paling ekstrim adalah mereka yang beranggapan bahwa dunia wanita hanyalah ‘sumur’, ‘dapur’, ‘kasur’. Boleh dibilang bahwa hal ini merupakan salah satu bentuk KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terhadap wanita. Mereka tidak diberikan haknya untuk meningkatkan pemahamannya terhadap ilmu syariat dan ilmu-ilmu lainnya. 
Tidak sedikit orang tua yang berpikiran sempit ketika anaknya baru menginjak usia belasan tahun kemudian dipaksa nikah oleh orangtuanya tanpa memberikan hak pilih kepada anak putrinya. Lebih dari itu tidak sedikit para orang tua tidak memberikan hak si anak putrinya untuk meningkatkan pemahamannya tentang syariat Islam yang mulia ini.

Akan tetapi dewasa ini, Alhamdulillah, kita melihat kesadaran orangtua mulai meningkat untuk membekali putrinya dengan pemahaman ilmu syariat. Hal ini patut disyukuri karena salah satu unsur penting dalam perbaikan umat adalah perbaikan kualitas keilmuan wanita yang mereka adalah calon calon madrasah. Berkata penyair:
الأُمُّ مَدرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا
 أَعْدَدْتَ شَعْبًاطَيِّبَ الأَعْرَاقِ
الأُمُّ رَوْضٌ إِنْ تَعَهَّدَهُ السُّقَاةُ
 بِالرَّيِّ أَوْرَقَ أَيُّمَا إِيْرَاقِ
الأُمُّ أُسْتَاذُ الأَسَاتِذَةِ الأُوْلَى
 شَغَلَتْ مَآثِرُهُمْ عَلَى الآفَاقِ
Ibu itu bagaikan sekolah, jika engkau mempersiapkannya
Berarti engkau mempersiapkan rakyat yang baik akhlaknya
Ilmu itu bagaikan kebun, jika engkau rawat sifat malu
Dengan selalu disirami akan menumbuhkan daun segar tak layu
Ibu sangat mulia bagaikan gurunya para guru
Pengaruhnya menembus segala penjuru

Semua itu merupakan fenomena yang patut kita syukuri karena ada indikasi bahwa para orang tua tidak lagi terjebak pemikiran keliru bahwasanya wanita itu hanya berurusan dengan sumur, dapur, kasur. Yang demikian disebabkan wanita pun wajib menuntut ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Wa Allah al Musta’an.

Kami kutip ceramah Ustadz Abu Ihsan al Atsary, Lc. M.A tentang pendidikan anak wanita dan wajibnya wanita menuntut ilmu. Beliau mengutip dari sebuah kitab yang ditulis oleh seorang murid Syaikh Al Albani rahimahullah yakni Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah. Silahkan download di:

http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Ihsan%20Al-Atsary/Panduan%20Amal%20Sehari%20Semalam%20dan%20Pendidikan%20Anak%20Wanita

Ustadz Abu Ihsan hafizhahullah menjelaskan:

“Kita harus memperhatikan bagaimana para salafush sholeh memuliakan anak-anak perempuan mereka, memberi pendidikan, dan kecukupan ilmu. Dengan itu para anak perempuan menjadi ‘alimah (wanita berilmu), faqihah, muhadditsah (wanita pakar hadits). Mereka memiliki karya dan bisa berbuat banyak bukan saja untuk kaum wanita namun untuk kaum pria. Dapat kita bayangkan jika anak perempuan tidak diberikan hak semacam itu...mau menjadi seperti apa generasi kita.

Jika mereka sudah menjadi seorang ibu yang dahulunya tidak diberikan hak untuk meningkatkan ilmu apa jadinya anak-anak mereka? Tidak mungkin dia bisa berbuat dan berkarya untuk orang lain.

Di kitab ini Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah mengatakan, “Oleh karena itu kita dapati dalam sejarah Islam ada beberapa tokoh wanita dalam disiplin ilmu berbeda dan biografi mereka ditulis oleh para ulama. Mereka masuk dalam deretan orang-orang yang berpengaruh dan mereka bermanfaat bukan saja untuk kaum wanita tapi juga menjadi rujukan (ilmiah) bagi kaum pria. Contoh nyata adalah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Diantara mereka juga ada yang ‘alim dalam ilmu fiqih (faqihah), ahli tafsir (mufassiroh), ahli ilmu bahasa, syariat secara umum dan ada juga yang ahli dalam ilmu kedokteran. Mereka memiliki karya yang banyak. Demikianlah ‘output’ orangtua dahulu dalam memberikan perhatian kepada anak perempuannya sehingga mereka tidak terlantar pendidikannya. Adapun sekarang tidak sedikit orangtua yang ingin anak perempuannya cepat menikah tanpa memberikan hak-hak pendidikan untuk anak perempuannya. Padahal dahulu jika anak perempuannya ada yang meminta mahar kitab ulama karena mereka dapat membaca kitab dengan huruf arab gundul dan mereka adalah wanita alimah dan faqihah bahkan mufassiroh. Disebutkan oleh Imam adz Dzahabi rahimahullah bahwa ada seorang gadis yang meminta mahar sebuah kitab Mukhtashor al Muzani. Ini menunjukkan bahwa wanita tersebut adalah wanita yang berpendidikan. Wanita di zaman dahulu memiliki antusiasme untuk menuntut ilmu dan tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang sedikit. Mereka ingin memiliki ilmu lebih dari apa yang mereka miliki. 

Oleh karena itu wanita salafiyah dahulu mereka berhak menjadi kebanggaan yang diakui. Bukan hanya diakui oleh kawan tapi juga oleh lawan. Ada seorang kafir bernama Gustaf Le Bon berkata di masa kekhalifahan Abbasi yakni di Andalus, Spanyol banyak ditemukan para wanita yang masyhur dan populer baik di bidang ilmu syariat, thibb (kedokteran), adab maupun ilmu lainnya. Banyak ditemukan kitab ternyata penulisnya wanita. Karangan atau karya mereka masih tersimpan di maktabah-maktabah di Eropa. Hal itu menjadi satu bukti kebangkitan ilmu pengetahuan wanita pada zaman tersebut di Eropa. Tulisan tulisan para wanita muslimah tersebut mempengaruhi peradaban dunia. Dan tidak akan mungkin generasi sekarang akan seperti itu jika wanita tidak diberikan pendidikan yang layak. Tidak sedikit orang tua yang hanya berpikir bagaimana si anak ini cepat menikah. Selesai. Urusan dia pada saat itu memang selesai namun tanggung jawab orang tua di hadapan Allah di akherat belum selesai. Dulu para wanita tidak saja dikenal sebagai penuntut ilmu namun juga muallimah (pengajar ilmu).

Bentuk-bentuk Kepedulian Salaf dalam Mengajarkan Ilmu kepada Kaum Wanita dan Antusiasme Mereka terhadap Ilmu 

Sekarang ini bagaimana wanita memiliki semangat menuntut ilmu jika tidak diberi kesempatan menuntut ilmu atau tidak diberi pendidikan, dan tidak dibiasakan untuk belajar atau menuntut ilmu. Setelah menikah apakah ada kesempatan yang banyak untuk belajar? Padahal Umar berkata, “Belajarlah kamu sebelum menikah” Harus ditanamkan bahwasanya anak-anak perempuan itu titipan Allah yang agung, barangsiapa yang sabar mengurus mereka maka pahalanya surga. Berikan mereka pendidikan... didiklah mereka... jika sudah demikian maka pilihkan jodoh laki-laki yang sholeh.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan wanita untuk belajar menulis berdasarkan hadits shahih dari Syifa’ binti Abdillah yang artinya, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku dan ketika itu aku berada di sisi hafshoh. Rasul berkata, ‘Tidakkah engkau mengajarkan kepadanya tentang ruqyah sebagaimana engkau mengajarkannya kitabah?’” para Ulama mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil wajibnya memberikan pendidikan ilmu kepada kaum wanita. Dan ulama telah ‘ijma atas disyari’atkannya mengajarkan menulis untuk wanita. Bahwasanya dulu para wanita pintar menulis dan tidak ada seorangpun yang mengingkari hal itu atas mereka. Dan di zaman sekarang sudah maju dan sudah tersedia computer yang merekapun berhak mempelajarinya.

Berkata Abdullah al Murofiki, “Bahwasanya ia pernah mengunjungi suatu tempat di Qurthubah (Cordova) Spanyol di sana terdapat majlasah khusus wanita yang terdiri dari 170 wanita dan seluruh wanita tersebut pintar dalam menulis mushaf dengan khoth Kufi yang kita ketahui khoth kufi agak lebih rumit daripada khoth diwani, riq’a. Kesimpulannya mereka adalah wanita-wanita terpelajar dan memiliki keahlian tertentu.

Syaikh Masyhur kemudian melanjutkan, “Saya sangat takjub dengan apa yang ditulis oleh seorang da’i salafy bernama Abdul Hamid bin Badis dalam mensyarah hadits syifa yang tersebut di atas (yakni ajarkan ruqyah –admin). Beliau mengatakan dalam hadits tersebut ada dalil tentang wajibnya mengajarkan kitabah/ tulis menulis untuk kaum wanita dan sejumlah ulama mengatakan yang demikian diantaranya adalah al Khaththabi dalam beberapa kitab beliau (ustadz Abu Ihsan menyebutkan 2 kitab beliau –admin)

Kesimpulannya seorang ayah dan ibu harus memperhatikan masalah ini. Apakah kita sudah melaksanakan kewajiban kita ataukah kita mengabaikannya sehingga mereka terlantar dan menjadi generasi ala kadarnya jauh dari gambaran bagaimana para wanita salafiyah dahulu. Artinya sudah sejauh mana memberikan perhatian terhadap pendidikan anak putrinya sehingga mereka tumbuh seperti wanita-wanita salaf terdahulu dan mereka kaum wanita salafiyah memiliki karya dan diperhitungkan bukan hanya oleh kaum wanita namun juga oleh kaum pria....

Semoga ini menjadi bahan pemikiran dan peringatan bagi kita semua selaku orang tua agar tidak mengabaikan kewajiban kita (membekali ilmu untuk anak perempuannya.)